Madu Trigona Jadi Sumber Ekonomi Masyarakat Lokal
- 27 Apr 2026 13:47 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Budidaya lebah trigona semakin berkembang di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Sulawesi Tenggara seperti Kabupaten Kolaka. Selain dikenal karena manfaat kesehatannya, madu trigona kini juga menjadi salah satu sumber penghasilan yang menjanjikan bagi masyarakat lokal.
Lebah trigona atau lebah tanpa sengat relatif mudah dibudidayakan. Masyarakat cukup menyediakan kotak sarang dan lingkungan dengan tanaman berbunga sebagai sumber pakan. Karakter lebah yang tidak menyengat membuat usaha ini aman dan dapat dilakukan di sekitar rumah.
Dari sisi ekonomi, budidaya lebah trigona memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Madu yang dihasilkan umumnya dijual dengan harga lebih mahal dibanding madu biasa karena kandungan nutrisinya. Selain madu, produk turunan seperti propolis juga memiliki nilai ekonomi tersendiri.
Dikutip dari laporan pemerintah daerah Depok (2023), madu trigona dapat dijual dengan harga sekitar Rp350.000 per kilogram, sementara propolis mencapai Rp250.000 per kilogram. Selain itu, panen madu dapat dilakukan secara rutin, bahkan sekitar satu bulan sekali, sehingga memberikan pemasukan berkelanjutan bagi peternak.
Dalam skala kelompok usaha, budidaya lebah trigona juga terbukti mampu memberikan pendapatan tambahan bagi masyarakat. Berdasarkan penelitian dalam Jurnal Hutan Tropika Universitas Palangka Raya (2023), produksi madu trigona dari puluhan sarang dapat menghasilkan puluhan liter madu per tahun dengan nilai ekonomi mencapai jutaan rupiah.
Tidak hanya sebagai usaha individu, budidaya lebah trigona juga berperan dalam menggerakkan ekonomi desa. Kegiatan ini dapat dikembangkan menjadi usaha bersama, bahkan terintegrasi dengan sektor lain seperti pertanian dan ekowisata. Hal ini membuat trigona menjadi komoditas yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Selain itu, peluang pasar madu trigona juga terbuka luas. Permintaan terhadap produk madu alami terus meningkat, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Dengan kualitas yang terjaga dan pengemasan yang baik, madu trigona berpotensi menembus pasar ekspor.
Menurut sejumlah kajian pengembangan pertanian seperti dari jurnal Politeknik Pembangunan Pertanian Malang, budidaya lebah trigona memiliki prospek bisnis yang cukup baik karena mudah dikembangkan, tidak membutuhkan lahan luas, serta memiliki nilai jual tinggi di pasar.
Di Sulawesi Tenggara, potensi ini mulai dimanfaatkan oleh masyarakat, termasuk di Kolaka yang memiliki kondisi lingkungan mendukung. Keberadaan hutan dan tanaman berbunga menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas dan produktivitas madu.
Dengan berbagai keunggulan tersebut, madu trigona tidak hanya menjadi produk kesehatan alami, tetapi juga peluang ekonomi yang dapat terus dikembangkan. Pengelolaan yang baik, dukungan pemerintah, serta peningkatan kualitas produk menjadi kunci agar komoditas ini mampu bersaing hingga ke pasar internasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....