Jenazah Terjebak di Jalan Tambang Mandiodo, Warga Evakuasi Manual

  • 03 Mei 2025 17:52 WIB
  •  Kendari

KBRN, Konawe Utara: Sebuah ambulans yang membawa jenazah dari rumah sakit terjebak selama berjam-jam di jalur utama Blok Mandiodo, Desa Tapunggaeya, Kecamatan Molawe, pada Kamis malam (2/5/2025).

Hujan deras, medan terjal, dan lumpur tebal menyebabkan kendaraan tidak dapat melanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul 22.00 WITA, warga dari Tapunggaeya dan Tapuemea membantu menarik ambulans secara manual agar jenazah dapat tiba di rumah duka.

Jalur yang dilalui ambulans merupakan akses utama antar desa yang saat ini juga digunakan sebagai jalur hauling tambang.

Dalam kondisi hujan, jalan tersebut menjadi licin dan sulit dilalui, sementara pada musim kemarau, debu menjadi masalah utama.

Kerusakan jalan ditandai dengan lubang, genangan air, dan tanjakan yang curam.

Jalan tersebut awalnya merupakan fasilitas umum milik pemerintah.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, jalur ini digunakan oleh sejumlah perusahaan tambang yang memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP), seperti PT Aneka Tambang (Antam), PT Cinta Jaya, PT Bumi Konawe Mining (BKM), dan PT AMI, untuk mendukung aktivitas hauling ore nikel.

Akibatnya, kondisi jalan mengalami kerusakan berat, dan sebagian badan jalan dipenuhi tumpukan ore.

Beberapa fasilitas pendidikan yang berada di sepanjang jalur tersebut telah dipindahkan karena terdampak aktivitas hauling.

Hingga saat ini, belum ada perbaikan menyeluruh yang dilakukan di jalan tersebut.

Koordinator Mandiodo Watch, Hargono, menyampaikan bahwa aktivitas hauling telah berdampak pada kehidupan warga, termasuk terganggunya akses pendidikan dan kesehatan.

“Setiap tahun kami hanya menerima debu, lumpur, dan risiko. Sekolah dipindahkan, ekonomi warga terganggu, dan kini jenazah pun tak bisa lewat,” ujar Hargono.

Sementara itu, Koordinator Kajian dan Kampanye PUSPAHAM Sulawesi Tenggara, Iskandar Wijaya, menyampaikan bahwa peristiwa tersebut menunjukkan perlunya evaluasi terhadap kebijakan pemanfaatan jalan umum oleh industri tambang.

“Bagaimana kita bisa bicara reklamasi, pemulihan ekosistem, atau ekonomi berkelanjutan jika akses dasar warga saja dikorbankan? Ini bukan sekadar krisis infrastruktur, ini krisis martabat manusia,” tegas Iskandar Wijaya,

Warga dari beberapa desa di Kecamatan Molawe, seperti Mandiodo, Tapunggaeya, Tapuemea, dan Mowundo, menyampaikan tuntutan agar dilakukan audit terhadap seluruh IUP aktif serta pemulihan fungsi jalan sebagai fasilitas publik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....