Kampanye “Zero Waste” untuk Anak Muda
- 09 Jul 2025 10:33 WIB
- Kendari
KBRN, Kendari : Kebiasaan sehari-hari anak muda kini mulai bergeser. Bukan cuma soal tren fashion atau gaya hidup sehat, tapi juga soal bagaimana mereka memperlakukan sampah.
Gerakan zero waste makin digemari, bukan sekadar untuk mengisi feed Instagram, tapi karena kesadaran bahwa bumi kita ini semakin tidak baik-baik saja.
Dalam kampanye zero waste, gerakan ini bukan cuma soal membawa barang-barang yang reusable. Anak muda secara tidak langsung ikut mendorong perubahan di tingkat kebijakan.
Hingga pertengahan 2020, setidaknya 37 daerah di Indonesia telah mengeluarkan peraturan pembatasan plastik sekali pakai.
Bahkan secara nasional, gerakan ini mendukung target KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) untuk mengurangi 30% timbulan sampah dan menangani 70% sisanya hingga 2025. Sebuah langkah besar, yang butuh aksi nyata dari masyarakat bawah hingga pembuat kebijakan.
Kampanye lewat digital adalah senjata utama. Dengan lebih dari 62 juta pengguna Instagram usia 18–34 tahun di Indonesia (per Januari 2020), kampanye digital jadi alat tempur paling efektif.
Banyak konten edukatif soal zero waste viral di TikTok dan Reels. Mulai dari tutorial buat sabun sendiri, cara belanja curah tanpa plastik, memanfaatkan kain sebagai pengganti plastik, daur ulang sampah sampai challenge #NoPlasticWeek.
Tren ini mengubah pola pikir kalau mengelola sampah bukan lagi soal "buang ke tempatnya", tapi bagaimana menghindari menghasilkan sampah sejak awal.
Lalu apa selanjutnya yang harus dilakukan ?
1. Kesadaran bukan lagi tantangan utama. Yang dibutuhkan sekarang adalah sistem pendukung. Lebih banyak toko daur ulang, harga produk yang bersaing, dan insentif untuk produsen yang menerapkan prinsip reuse dan refill.
2. Kampanye perlu menyentuh berbagai kelas sosial. Saat ini gaya hidup minim sampah cenderung lebih mudah diakses oleh masyarakat menengah ke atas. Gerakan harus lebih inklusif.
3. Digitalisasi adalah peluang. Semakin kreatif kampanye di media sosial, semakin mudah mengubah kebiasaan masyarakat. Edukasi visual, storytelling, dan konten berbasis data sangat berpengaruh.
Gaya hidup zero waste bukan sekadar tren, tapi refleksi kesadaran baru generasi muda. Meski masih banyak tantangan, dari akses hingga kenyamanan, langkah kecil seperti bawa botol minum sendiri dan beli barang atau pakaian second-hand, atau menolak sedotan plastik sudah jadi bagian dari solusi.
Anak muda bukan hanya konsumen, mereka adalah agen perubahan, baik dalam gaya hidup maupun dalam mendorong arah kebijakan publik yang lebih ramah lingkungan. (Ananta Setiadi)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....