Makanan Rakyat yang Menyimpan Kisah Kelas Sosial dan Bahaya Kesehatan

  • 07 Sep 2026 20:31 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Roti hitam menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Eropa pada abad pertengahan, terutama di kalangan rakyat biasa. Berbeda dengan roti berbahan gandum putih yang lebih halus dan cenderung diasosiasikan dengan kelompok masyarakat berada, roti berbahan rye atau barley memiliki tekstur lebih padat, kasar, serta warna yang lebih gelap. Bagi para pekerja dan petani, roti tersebut bukan sekadar makanan, tetapi sumber energi utama untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Perbedaan bahan baku juga dapat menggambarkan kesenjangan sosial pada masa itu. Gandum berkualitas tinggi menghasilkan tepung yang lebih putih dan roti yang lebih lembut, sehingga lebih mudah ditemukan di meja makan kelompok masyarakat kaya. Sebaliknya, masyarakat kelas bawah lebih banyak mengonsumsi rye, barley, bubur serealia, atau sup kental. Kajian Detecting social differences in diet in medieval towns: isotopic evidence from Cambridge, England, c. AD 940–1538 menunjukkan bahwa pola konsumsi makanan dapat memberikan gambaran mengenai perbedaan kehidupan dan status sosial masyarakat abad pertengahan.

Namun, roti berbahan rye juga memiliki sisi lain yang menarik sekaligus berbahaya. Dalam kondisi tertentu, tanaman rye dapat terkontaminasi jamur Claviceps purpurea yang menghasilkan senyawa beracun bernama alkaloid ergot. Konsumsi biji-bijian yang terkontaminasi dapat menyebabkan ergotisme, penyakit yang dalam sejarah dikenal dengan sebutan St. Anthony’s Fire. Penelitian berjudul Ergotism and Saint Anthony's Fire menjelaskan bahwa konsumsi rye yang terkontaminasi dapat menimbulkan gangguan saraf hingga kerusakan jaringan dan gangren.

Karena itu, sepotong roti hitam di meja makan masyarakat abad pertengahan ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar makanan. Roti menjadi bagian dari kehidupan ekonomi, budaya, dan struktur sosial, sekaligus mengingatkan bahwa keamanan pangan pada masa lalu sangat bergantung pada kualitas hasil pertanian. Dari roti yang sederhana tersebut, kita dapat melihat bagaimana makanan turut mencerminkan kelas sosial, pola kehidupan, hingga risiko kesehatan masyarakat Eropa pada masa lampau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....