Filosofi Tubba' Dikatutuang: Cara Suku Bajo Menjaga Eksistensi Laut

  • 21 Agt 2026 19:26 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Sebagai negara kepulauan yang dianugerahi garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia memiliki kekayaan kearifan lokal yang luar biasa dalam hal pelestarian lingkungan. Di kawasan timur Indonesia, salah satu pilar utama penjaga keseimbangan ekosistem pesisir adalah tradisi dan budaya dari Suku Bajo, kelompok masyarakat yang legendaris sebagai penjelajah laut ulung Nusantara.

Dalam pandangan masyarakat Bajo, laut bukanlah objek eksploitasi belaka, melainkan rumah utama dan sumber kehidupan yang harus dihormati. Hal ini terangkum kuat dalam filosofi budaya mereka yang dikenal dengan Tubba' Dikatutuang, yang secara harfiah dapat dimaknai sebagai upaya dan komitmen penuh untuk menjaga eksistensi laut.

Konsep Tubba' Dikatutuang mengajarkan harmoni; manusia boleh mengambil hasil laut untuk bertahan hidup, namun diwajibkan untuk merawat terumbu karang dan habitat ikan agar kelestariannya tetap terjaga bagi generasi anak cucu di masa depan. Aturan adat yang mengakar ini secara tegas menolak praktik penangkapan ikan yang merusak, seperti penggunaan bahan peledak atau racun kimia.

Melansir dari laman Wikipedia mengenai Suku Sama-Bajau, kelompok etnis ini secara historis dikenal sebagai populasi nomaden laut (sea gypsies) yang tersebar luas di perairan Asia Tenggara, termasuk perairan Sulawesi. Karena seluruh denyut kehidupan mereka bertumpu pada lautan, aturan adat tentang pelestarian laut berevolusi secara alami sebagai bentuk adaptasi sintas (survival).

Pengetahuan empiris mereka tentang musim, arah angin, arus laut, hingga siklus perkembangbiakan ikan telah diwariskan dari generasi ke generasi, menjadikan mereka pakar oseanografi alami yang tak tertandingi.

Di tengah maraknya ancaman krisis iklim global dan pemutihan terumbu karang (coral bleaching), filosofi Tubba' Dikatutuang menjadi semakin relevan untuk diangkat ke permukaan. Pengetahuan lokal ini membuktikan bahwa konservasi tidak melulu harus bertumpu pada regulasi formal pemerintah, melainkan bisa digerakkan melalui kesadaran budaya yang luhur.

Dialog-dialog budaya yang mengangkat eksistensi laut melalui lensa kearifan lokal Bajo perlu terus digaungkan, agar pesan pelestarian ini dapat menginspirasi wilayah pesisir lainnya di seluruh Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....