Menjaga Nusantara: Peran Vital Kearifan Lokal dalam Pelestarian Ekosistem Laut

  • 21 Agt 2026 19:25 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia dianugerahi garis pantai yang luar biasa panjang dan kekayaan keanekaragaman hayati laut yang tak ternilai harganya. Sayangnya, ancaman terhadap ekosistem laut seperti polusi plastik, pemutihan karang akibat perubahan iklim, hingga praktik penangkapan ikan yang merusak (destructive fishing) terus membayangi.

Dalam upaya mitigasi krisis ekologi ini, peran kearifan lokal dari masyarakat pesisir menjadi pilar yang sangat krusial, bahkan sering kali lebih efektif daripada regulasi formal semata. Masyarakat adat dan penduduk pesisir telah berabad-abad hidup berdampingan dengan laut. Bagi mereka, menjaga laut bukanlah sekadar kewajiban lingkungan, melainkan upaya mempertahankan eksistensi dan ruang hidup mereka sendiri.

Melansir dari artikel yang dipublikasikan di situs National Geographic Indonesia, wilayah perairan Nusantara, khususnya yang masuk dalam kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), menampung lebih dari 75% spesies karang dunia. Perlindungan kawasan emas ini sangat bergantung pada tradisi masyarakat pesisir yang menerapkan sistem zonasi adat, di mana terdapat larangan ketat untuk menangkap ikan di area tertentu selama periode waktu tertentu demi membiarkan alam memulihkan dirinya.

Lebih lanjut, dikutip dari laman Wikipedia mengenai Konservasi Laut (Marine Conservation), disebutkan bahwa strategi perlindungan ekosistem pesisir tidak bisa dilakukan secara sepihak, melainkan harus melibatkan pendekatan berbasis komunitas (community-based conservation). Pengetahuan tradisional mengenai arus laut, siklus perkembangbiakan ikan, dan batasan panen harian yang diwariskan secara turun-temurun terbukti mampu menjaga keseimbangan rantai makanan di laut.

Dialog budaya dan edukasi antar generasi menjadi kunci agar kearifan lokal ini tidak punah digerus zaman. Saat kearifan lokal digabungkan dengan ilmu pengetahuan kelautan modern, hasilnya adalah sebuah benteng pelestarian yang kokoh. Ini membuktikan bahwa laut tidak hanya membutuhkan intervensi teknologi mutakhir untuk diselamatkan, tetapi juga sentuhan nilai-nilai budaya masa lalu yang mengajarkan manusia untuk mengambil secukupnya dan merawat semampunya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....