Kota Bawah Tanah di tengah Padang Gurun
- 06 Agt 2026 06:45 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari – Saat suhu udara di sebagian wilayah dapat mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, kebanyakan orang memilih berlindung di dalam bangunan berpendingin. Namun, di kota kecil Coober Pedy, Australia Selatan, ribuan penduduk justru tinggal di rumah-rumah yang dibangun di bawah permukaan tanah sebagai cara alami menghadapi panas gurun yang ekstrem.
Rumah-rumah bawah tanah yang dikenal sebagai dugouts awalnya dibuat oleh para penambang opal pada awal abad ke-20. Mereka menyadari bahwa suhu di bawah tanah jauh lebih stabil dibandingkan di permukaan, sehingga tempat tinggal tersebut terasa sejuk saat musim panas dan lebih hangat ketika musim dingin. Seiring waktu, konsep itu berkembang menjadi permukiman lengkap yang dilengkapi kamar tidur, dapur, hotel, gereja, hingga museum.
Meski berada di bawah tanah, hunian di Coober Pedy tetap dirancang agar nyaman dihuni. Ventilasi, pencahayaan, dan tata ruang dibuat sedemikian rupa sehingga penghuninya dapat beraktivitas seperti di rumah pada umumnya. Keunikan tersebut menjadikan kota ini sebagai salah satu destinasi wisata yang menarik perhatian pengunjung dari berbagai negara.
Menurut UNESCO, arsitektur vernakular merupakan bentuk adaptasi masyarakat terhadap kondisi lingkungan setempat dengan memanfaatkan pengetahuan dan material yang tersedia. Hunian bawah tanah di Coober Pedy menjadi salah satu contoh bagaimana manusia mampu menciptakan tempat tinggal yang nyaman melalui penyesuaian terhadap iklim gurun yang ekstrem.
Kisah Coober Pedy menunjukkan bahwa keterbatasan alam sering kali melahirkan solusi yang kreatif. Di tengah panasnya gurun Australia, masyarakat setempat membuktikan bahwa rumah bukan hanya soal bangunan di atas tanah, melainkan tempat yang mampu memberikan rasa aman sekaligus mencerminkan kemampuan manusia beradaptasi dengan lingkungannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....