Pelestarian Tradisi Katoba Suku Muna Tetap Dijaga Ditengah Arus Modernisasi
- 28 Apr 2026 11:06 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Tradisi Katoba, salah satu adat istiadat penting dalam kehidupan masyarakat Suku Muna, hingga kini masih terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya dan nilai spiritual masyarakat setempat. Katoba merupakan ritual penyucian diri yang umumnya dilaksanakan pada anak-anak yang mulai memasuki usia remaja, sebagai bentuk pembinaan moral dan penguatan nilai-nilai keislaman.
Menurut Hadirman, penulis jurnal “Sejarah dan Bahasa Figuratif dalam Tradisi Katoba pada Masyarakat Muna” Tradisi katoba berasal dari kata toba yang artinya ‘tobat, insaf’. Katoba adalah ritual “tobat” keagamaan untuk anak yang berumur antara 7-11 tahun: diajarkan larangan-larangan yang harus dijauhi dan perbuatan-perbuatan baik yang harus dilakukan oleh seorang imam Islam, disaksikan oleh keluarga maupun undangan.
Ritual ritual katoba dilakukan sesudah seorang anak disunat atau dikhitan. Pelaksanaan tradisi katoba selalu melibatkan dewan syarah/tokoh adat dan agama di Muna, yang saat ini dikenal dengan imamu (imam) desa.
| Baca juga: Misteri Batu Nisan Angus Martin |
Tradisi katoba sampai sekarang masih tetap didukung dan dilestarikan karena dianggap masih memiliki peranan dalam kehidupan masyarakat Muna. Tujuan kegiatan tradisi katoba selain untuk melestarikan budaya leluhur, juga sebagai dakwah Islam.
Masyarakat Muna yang mayoritas beragama Islam melaksanakan tradisi katoba karena dalam ajaran Islam mengutamakan taubat (toba) agar memiliki sifat-sifat perbuatan terpuji dan melakukan perbuatan yang menyelamatkan diri baik di dunia maupun di akhirat.
Ritual ini tidak sekadar seremonial, tetapi mengandung makna mendalam. Katoba menjadi sarana pendidikan karakter yang diwariskan secara turun-temurun. Anak-anak diajarkan untuk menjauhi perbuatan buruk, menghormati orang tua, serta menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Prosesi Katoba umumnya diawali dengan pembacaan doa dan ayat-ayat suci Al-Qur'an, dilanjutkan dengan penyampaian petuah adat. Salah satu momen penting dalam Katoba adalah pengakuan kesalahan oleh anak yang menjalani ritual, sebagai simbol kesiapan untuk memperbaiki diri.
Masyarakat Suku Muna percaya bahwa Katoba memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian generasi muda. Oleh karena itu, meskipun perkembangan zaman membawa berbagai perubahan, tradisi ini tetap dijaga dan dilaksanakan dengan penuh khidmat.
Tokoh adat setempat menegaskan bahwa pelestarian Katoba merupakan tanggung jawab bersama. Mereka berharap generasi muda tidak melupakan akar budaya mereka, serta terus menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi tersebut.
Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, keberadaan Katoba menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih memiliki tempat yang kuat dalam kehidupan masyarakat. Tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan sosial, tetapi juga menjadi benteng moral bagi generasi penerus Suku Muna. (Ainul Rahmadani – FKIP UHO)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....