Mengenal Makna Filosofis Tradisi Posuo Bagi Perempuan Buton
- 22 Apr 2026 16:12 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari – Tradisi pingitan atau yang lebih dikenal dengan istilah Posuo tetap menjadi warisan budaya yang dijaga ketat oleh masyarakat Buton, Sulawesi Tenggara, hingga memasuki April 2026 ini. Ritual adat ini bukan sekadar proses pengasingan fisik, melainkan sebuah transisi spiritual dan emosional yang mengandung nilai filosofis mendalam dalam membentuk karakter perempuan saat memasuki fase kedewasaan dan kesiapan berumah tangga.
Dilansir dari kajian budaya lokal di portal Edukasi Sultra pada 20 April 2026, pelaksanaan Posuo umumnya diperuntukkan bagi remaja perempuan yang telah memasuki masa balig. Menurut praktisi adat Buton, La Ode Muhammad (18 April 2026), prosesi ini merupakan bentuk pembinaan diri di dalam ruangan khusus (Suo) selama beberapa hari. Hal ini bertujuan untuk memutus pengaruh dunia luar sementara waktu agar sang perempuan dapat fokus pada pembersihan batin.
Dikutip dari literatur sejarah kebudayaan Buton dalam laman Budaya Indonesia pada 19 April 2026, setiap tahapan Posuo memiliki simbol kesucian yang kuat. Penggunaan kain putih selama ritual melambangkan kesucian lahiriah dan batiniah, di mana perempuan yang menjalaninya diibaratkan "terlahir kembali". Prosesi pemberian doa dan pembersihan diri dipimpin oleh tokoh adat perempuan (Parabela atau Bhisa) untuk memastikan nilai-nilai kehidupan tertanam dengan baik.
Berdasarkan tinjauan sosiologi masyarakat di portal Kompasiana pada 21 April 2026, Posuo berperan sebagai media pendidikan tradisional yang sangat efektif di tengah modernisasi. Selama masa pingitan, para peserta mendapatkan bimbingan intensif mengenai etika, tanggung jawab rumah tangga, hingga peran sosial dalam masyarakat. Tradisi ini terbukti mampu membentuk kepribadian yang matang, santun, dan berakhlak mulia sesuai dengan norma kearifan lokal Buton.
Menurut praktisi humas dalam program diskusi budaya KBRN pada 22 April 2026, keberlanjutan tradisi Posuo merupakan bentuk penghormatan terhadap identitas jati diri bangsa. Meskipun zaman terus berkembang, nilai-nilai luhur dalam Posuo tetap relevan sebagai instrumen penguatan karakter generasi muda. Dengan mempertahankan ritual ini, masyarakat Buton secara kolektif sedang merawat warisan leluhur agar tetap menjadi pilar harmoni dalam kehidupan sosial di Sulawesi Tenggara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....