Mengenal Makna Filosofis Tradisi Haroa Muna dan Buton

  • 22 Apr 2026 15:17 WIB
  •  Kendari

RI.CO.ID, Kendari – Tradisi Haroa tetap menjadi warisan budaya yang lestari sekaligus napas spiritual bagi masyarakat Muna dan Buton di Sulawesi Tenggara hingga saat ini. Penyelenggaraan ritual yang terencana dengan baik pada 22 April 2026 ini diyakini tidak hanya sekadar menjadi kegiatan seremonial tahunan, melainkan manifestasi nilai religius dan filosofis yang kuat dalam menjaga harmoni serta rasa syukur masyarakat setempat.

Dikutip dari ulasan kebudayaan daerah di portal Edukasi Sultra (18 April 2026), secara etimologis kata Haroa berasal dari bahasa Muna, yakni "Haro" yang berarti menyapu atau membersihkan. Menurut praktisi budaya lokal, La Ode Muhammad (15 April 2026), makna ini merepresentasikan simbol penyucian diri secara lahir maupun batin sebelum memasuki momen sakral, sehingga hati menjadi bersih dalam menjaga hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta.

Dilansir dari literatur sejarah Kesultanan Buton di laman Budaya Indonesia (19 April 2026), praktik Haroa identik dengan ritual doa bersama yang dipimpin oleh perangkat masjid atau tokoh agama. Penggunaan dulang atau nampan berisi hidangan tradisional menjadi simbol kebersamaan yang mendalam. Prosesi makan bersama setelah doa dipanjatkan menjadi lambang syukur kolektif atas segala keberkahan hidup yang telah diterima oleh komunitas atau keluarga besar.

Berdasarkan tinjauan sosiologi di portal Kompasiana (20 April 2026), Haroa memiliki dimensi sosial yang kuat sebagai media integrasi dan penyelesaian konflik secara kultural. Momentum berkumpul ini dimanfaatkan warga untuk saling memaafkan dan mempererat tali silaturahmi. Nilai-nilai kekeluargaan yang terkandung di dalamnya menjadikan Haroa tetap relevan di tengah modernitas sebagai penjaga stabilitas hubungan sosial masyarakat di Sulawesi Tenggara.

Menurut ulasan praktisi adat dalam program dialog KBRN (22 April 2026), keberadaan beragam panganan tradisional dalam ritual Haroa mencerminkan kekayaan identitas daerah yang harus terus dirawat. Setiap jenis hidangan yang disajikan membawa pesan tentang kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Dengan menjaga tradisi ini, masyarakat Muna dan Buton secara tidak langsung terus memperkuat jati diri bangsa agar tetap eksis menghadapi perkembangan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....