Mengenal Tenun Masalili, Kain Identitas Budaya Muna
- 14 Apr 2026 06:59 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Di balik kesederhanaan Desa Masalili, Kecamatan Kontunaga, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, tersimpan warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi. Sarung Tenun Masalili bukan sekadar kain tradisional, tetapi menjadi simbol identitas, ketekunan, sekaligus kebanggaan masyarakat setempat.
Aktivitas menenun di desa ini telah berlangsung sejak lama, bahkan diperkirakan sudah ada sejak masa Kerajaan Muna. Dahulu, bahan tenun berasal dari serat alami seperti kulit kayu dan kapas yang dipintal secara manual, serta pewarna yang diambil dari tumbuhan sekitar. Seiring waktu, teknik dan bahan berkembang, namun nilai tradisinya tetap dipertahankan.
Hingga kini, menenun menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Masalili. Hampir setiap rumah memiliki alat tenun, dan sebagian besar perempuan memiliki keterampilan menenun yang diwariskan secara turun-temurun. Kegiatan ini tidak hanya menjadi pekerjaan sampingan, tetapi juga telah berkembang menjadi sumber mata pencaharian utama bagi banyak keluarga.
Keunikan Sarung Tenun Masalili terletak pada motif dan warna yang khas. Kain ini identik dengan corak garis-garis serta warna-warna cerah seperti kuning, hijau, dan oranye. Setiap motif memiliki makna filosofis tersendiri, bahkan beberapa di antaranya berkaitan dengan status sosial. Misalnya, motif tertentu dahulu hanya digunakan oleh kalangan bangsawan, sementara motif lainnya dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak hanya itu, proses menenun juga sarat nilai budaya. Masyarakat setempat meyakini bahwa menenun harus dilakukan dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih agar menghasilkan motif yang indah dan rapi. Hal ini menunjukkan bahwa tenun bukan sekadar aktivitas teknis, tetapi juga bagian dari ekspresi budaya dan kearifan lokal.
Dalam perkembangannya, Tenun Masalili terus beradaptasi dengan zaman. Kain yang awalnya berbentuk sarung kini telah dikreasikan menjadi berbagai produk seperti busana modern, tas, hingga aksesoris. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan Bank Indonesia, turut mendorong peningkatan kualitas, desain, serta pemasaran produk tenun ini agar mampu bersaing di pasar nasional hingga internasional.
Dikutip dari laporan Antara (2024), Tenun Masalili di Kabupaten Muna dinilai memiliki nilai budaya dan ekonomi yang tinggi, sehingga perlu terus dikembangkan sebagai bagian dari identitas daerah sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Selain bernilai ekonomi, Tenun Masalili juga memiliki nilai sosial yang kuat. Proses menenun menjadi sarana pelestarian tradisi, sekaligus media untuk mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda. Setiap helai kain yang dihasilkan bukan hanya karya seni, tetapi juga mencerminkan perjalanan hidup dan identitas masyarakat Muna.
Dengan segala keunikan dan nilai yang dimilikinya, Sarung Tenun Masalili menjadi bukti bahwa warisan budaya lokal mampu bertahan di tengah arus modernisasi. Upaya pelestarian dan pengembangan yang berkelanjutan diharapkan dapat menjaga eksistensi tenun ini, sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pengrajinnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....