Wapres Gibran: AI Bukan Lagi Masa Depan, Generasi Muda Harus Beretika

  • 18 Jun 2026 11:24 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka menegaskan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi teknologi masa depan, melainkan bagian dari kehidupan saat ini yang harus dikuasai oleh generasi muda Indonesia. Pernyataan itu disampaikan Gibran dalam sambutannya pada acara Indonesia Connect Outlook 2026 di The Hall Senayan City, Rabu (17/6/2026).

Gibran mengatakan perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat. Jika sebelumnya fokus masyarakat pada literasi baca-tulis, kini tantangan utama adalah literasi digital, dengan AI sebagai puncak transformasinya. "AI bukan lagi masa depan, AI adalah hari ini. Kita tidak bisa lagi menutup mata atau sekadar menjadi penonton. Kita harus menjadi pemain, kita harus menjadi penguasa teknologi tersebut," ujar Gibran seperti dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Wakil Presiden.

Wapres mengajak para pelajar memanfaatkan AI sebagai alat bantu belajar—misalnya untuk mencari informasi, mempelajari bahasa, dan mempermudah pemahaman konsep atau rumus—namun menekankan AI tidak boleh membuat kemampuan berpikir kritis pudar. Menurutnya, AI harus mendorong kreativitas dan produktivitas, bukan menggantikan kemampuan intelektual manusia.

Gibran juga menyoroti maraknya teknologi AI open source yang mudah diakses sebagai peluang besar bagi talenta muda Indonesia. "Ini kesempatan emas bagi talenta berbakat Indonesia. Di tangan yang menguasai teknologi, Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekadar impian, tetapi sebuah kepastian," tuturnya.

Selain pelajar, Gibran memberi perhatian pada guru dan orang tua. Ia mendorong peningkatan kompetensi guru agar bisa memanfaatkan AI untuk tugas administratif, penyusunan soal, dan penyederhanaan materi—sehingga guru punya lebih banyak waktu membentuk karakter siswa. Kepada orang tua, ia mengingatkan pentingnya pendampingan anak dalam penggunaan teknologi digital agar tidak tertinggal.

Aspek etika mendapat penekanan khusus. Gibran mengingatkan bahwa penguasaan teknis harus berjalan seiring dengan integritas dan tanggung jawab untuk mencegah penyalahgunaan, seperti penyebaran hoaks, plagiarisme, dan pelanggaran privasi. Ia menyatakan pemerintah telah menyelesaikan Readiness Assessment Methodology (RAM) untuk AI yang disusun UNESCO sebagai alat diagnosis kesiapan dan tata kelola AI sesuai pedoman etika.

"Kuasai teknologinya, pegang teguh etikanya. Mari kita jadikan AI sebagai jembatan menuju Indonesia yang lebih maju, lebih cerdas, dan lebih bermartabat," tutup Wapres.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....