Menkeu Purbaya: Pelemahan Rupiah hingga Rp17.800, Tak Perlu Revisi APBN 2026

  • 28 Mei 2026 17:54 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus kisaran Rp17.800 per dolar AS tidak memaksa pemerintah merevisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Pernyataan itu disampaikan merespons kekhawatiran pasar terhadap tekanan nilai tukar baru-baru ini.

Menurut Purbaya, Kementerian Keuangan telah melakukan simulasi berbagai skenario ekonomi sebelumnya, termasuk skenario harga minyak dunia hingga 100 dolar AS per barel, sehingga dampak pelemahan rupiah sudah diperhitungkan dalam asumsi anggaran. “Sudah kami hitung. Saat simulasi harga minyak 100 dolar AS per barel, asumsi rupiahnya juga sudah diperhitungkan. Jadi enggak ada masalah, saya enggak perlu hitung ulang APBN,” ujar Purbaya, dikutip Rabu, 27 Mei 2026.

Menkeu menilai pasar obligasi domestik masih terkendali meskipun rupiah berada di bawah tekanan. Pemerintah disebutnya melakukan langkah stabilisasi melalui pembelian kembali (buyback) obligasi untuk menjaga imbal hasil (yield) agar tetap terkendali. “Walaupun rupiah melemah, yield bond justru turun. Karena ada aksi pemerintah, teman-teman di Direktorat Jenderal Perbendaharaan melakukan sedikit pembelian supaya yield tetap terkendali,” kata Purbaya.

Stabilitas pasar obligasi menurutnya penting untuk menjaga minat investor asing terhadap aset domestik. Purbaya menyebut mulai terlihat adanya aliran modal asing yang masuk kembali ke pasar obligasi Indonesia. “Selama bond market terkendali, kemampuan investor asing untuk masuk ke obligasi kita juga tetap terjaga. Kita sudah mulai melihat ada aliran modal asing yang masuk ke pasar,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah disebut sedang menyiapkan langkah lanjutan untuk memperkuat rupiah. “Ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang membantu mengangkat rupiah secara signifikan,” tambah Purbaya.

Meskipun rupiah melemah, Menkeu menegaskan pelemahan tersebut tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi yang menurutnya masih relatif kuat. “Ini terjadi padahal fundamental ekonomi kita bagus. Sebetulnya enggak masuk akal. Biasanya mata uang melemah kalau ada gangguan fundamental ekonomi,” ujar Purbaya.

Pada penutupan Rabu, nilai tukar rupiah tercatat melemah sekitar 0,20 persen ke level Rp17.830 per dolar AS. Beberapa analis memprediksi tekanan bisa berlanjut dan berpotensi mendorong rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS jika sentimen eksternal atau domestik memburuk.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....