Waspada Sesar Palu Koro di Pulau Sulawesi

  • 17 Apr 2026 13:01 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Pulau Sulawesi kembali menjadi sorotan para ahli kebencanaan akibat aktivitas Sesar Palu–Koro yang dikenal sebagai salah satu patahan paling aktif di Indonesia. Sesar ini membentang dari utara hingga selatan pulau, melintasi wilayah-wilayah padat penduduk seperti Palu, Sigi, hingga Donggala.

Menurut Wikipedia.org, sesar Palu-Koro diketahui sangat aktif dan beberapa gempa bersejarah diperkirakan pernah terjadi di zona ini, seperti pada tahun 1905, 1907, 1909, 1927, 1934, 1968, 1985, 1993 dan 2018. Dari penggalian di sepanjang patahan tersebut, tiga gempa bumi besar telah diidentifikasi selama 2.000 tahun terakhir, dan menunjukkan interval terulangnya gempa bumi besar sekitar 700 tahun. Interval perulangan tersebut tidak cukup untuk memperhitungkan laju slip jangka panjang, yang menunjukkan bahwa creep aseismik penting di zona sesar ini atau untaian lainnya telah aktif, jauh dari jejak sesar utama.

Sesar Palu Koro merupakan salah satu peristiwa tektonik atau pergeseran lapisan kulit bumi karena terlepasnya energi di zona subduksi. Sesar Palu Koro terbentuk akibat tekanan yang timbul dari benturan benua kecil (mikrokontinen) Banggai-Sula yang merangsek ke arah barat di mana Pulau Sulawesi berada. Peristiwa benturan benua kecil ini diperkirakan terjadi pada 5 hingga 0 juta tahun yang lalu.

Aktivitas sesar ini bukan sekadar ancaman teoritis. Pada tahun 2018, pergerakan patahan ini memicu Gempa Palu 2018 yang menelan ribuan korban jiwa serta menyebabkan kerusakan luas, termasuk fenomena likuifaksi yang jarang terjadi dalam skala besar.

Badan meteorologi dan para ahli geologi mengingatkan bahwa Sesar Palu–Koro masih aktif hingga saat ini. Pergerakannya yang relatif cepat dibandingkan sesar lain di Indonesia membuat potensi gempa besar di masa depan tetap terbuka.

Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di wilayah yang dilalui jalur sesar. Upaya mitigasi seperti edukasi kebencanaan, pembangunan tahan gempa, serta pemetaan zona rawan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko bencana di masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....