Kopi dan Krisis Ekologi Akibat Lonjakan Konsumsi Global
- 06 Des 2025 09:33 WIB
- Kendari
KBRN, Kendari: Kebutuhan kopi yang terus meningkat mendorong perluasan lahan tanam di berbagai wilayah. Tren ini berimbas pada menyusutnya kawasan hutan alami yang berubah menjadi perkebunan kopi.
Studi dari Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB (2017) mencatat sebagian kebun kopi di Sumatra kini ditanam tanpa sistem naungan. Penelitian itu menyebut kondisi tersebut mempercepat hilangnya tutupan hutan dan mengubah lanskap menjadi monokultur produksi.
Perubahan tata guna lahan ini berdampak pada kualitas tanah dan air. Tanah menjadi mudah tergerus dan kapasitas resapan air menurun sehingga keseimbangan ekosistem melemah.
Selain tekanan pada lingkungan, produksi kopi juga meninggalkan jejak karbon besar. Proses penanaman hingga pengolahan memerlukan energi dan memicu pelepasan emisi rumah kaca.
Konsumsi kopi di Indonesia turut berkontribusi terhadap beban ekologis tersebut. Data GoodStats 2024 menunjukkan peningkatan minat konsumsi kopi selaras dengan naiknya kebutuhan bahan baku dari perkebunan.
Saat kebutuhan biji kopi meningkat, tekanan terhadap hutan pun bertambah. Konversi lahan menjadi perkebunan sering dilakukan untuk mengejar permintaan pasar yang tumbuh cepat.
Limbah pengolahan kopi juga memberi tantangan bagi lingkungan. Air sisa pencucian dan residu bahan kimia dapat mencemari sungai bila tidak dikelola dengan baik.
Sebagian pelaku industri berupaya menerapkan pola tanam ramah alam. Penggunaan kembali sistem kopi naungan menjadi salah satu pendekatan yang dipertimbangkan untuk menjaga ekosistem.
Kesadaran konsumen turut berperan dalam menjaga keseimbangan ini. Memilih produk bersertifikasi lingkungan membantu menekan dampak negatif produksi kopi terhadap keberlanjutan alam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....