Bab Kelam dalam Sejarah Pengobatan Eropa
- 15 Jul 2026 15:54 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Sulit dipercaya, tetapi selama berabad-abad masyarakat Eropa pernah meyakini bahwa mumi Mesir kuno memiliki khasiat pengobatan. Sejak sekitar abad ke-12 hingga abad ke-17, berbagai apotek dan tabib menjual bubuk yang dikenal sebagai mumia, yang dipercaya mampu mengobati luka, pendarahan, patah tulang, hingga berbagai penyakit dalam. Kepercayaan tersebut berkembang luas dan menjadi bagian dari praktik pengobatan yang cukup populer pada masanya.
Awalnya, istilah mumia merujuk pada bitumen atau aspal alami yang digunakan dalam proses pengawetan jenazah di Mesir kuno. Namun, kesalahan penerjemahan dan meningkatnya permintaan pasar membuat istilah tersebut kemudian dikaitkan langsung dengan jasad mumi manusia. Akibatnya, ribuan mumi kuno dibongkar dari makam-makam Mesir untuk diperdagangkan dan diolah menjadi serbuk yang dikonsumsi sebagai obat oleh masyarakat Eropa.
Praktik ini tidak hanya mendorong penjarahan situs-situs pemakaman kuno, tetapi juga melahirkan perdagangan yang menguntungkan bagi sejumlah pihak. Bahkan, muncul laporan mengenai pemalsuan mumi untuk memenuhi tingginya permintaan pasar. Fenomena tersebut menjadi perhatian para peneliti sejarah medis, sebagaimana dibahas dalam kajian akademik berjudul Mummies, Medicine and the Trade of Human Remains, yang mengulas hubungan antara perdagangan mumi dan perkembangan praktik pengobatan di Eropa pada masa lampau.
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan metode kedokteran modern, kepercayaan terhadap khasiat mumi perlahan ditinggalkan. Kini, praktik tersebut dikenang sebagai salah satu episode paling kontroversial dalam sejarah pengobatan manusia. Selain menjadi pelajaran tentang pentingnya pendekatan ilmiah dalam dunia kesehatan, kisah ini juga menunjukkan bagaimana keyakinan yang diterima luas pada suatu masa dapat berubah seiring bertambahnya pengetahuan dan pemahaman manusia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....