Hari Puisi Indonesia Diperingati Setiap Tanggal 26 Juli

  • 26 Jul 2026 21:42 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari – Setiap 26 Juli, Indonesia memperingati Hari Puisi Indonesia, sebuah momentum untuk merayakan kekuatan sastra sekaligus menghidupkan semangat literasi di tengah masyarakat. Bukan sekadar rangkaian kata indah, puisi menjadi ruang bagi manusia untuk menyuarakan gagasan, mengabadikan perasaan, dan merekam perjalanan zaman.

Peringatan Hari Puisi Indonesia pertama kali dideklarasikan pada 26 Juli 2012 dalam ajang Makassar International Writers Festival (MIWF). Tanggal tersebut dipilih bertepatan dengan hari kelahiran penyair besar Indonesia, Chairil Anwar, sosok yang dikenal sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus pembaru puisi modern Indonesia melalui karya-karyanya yang kritis, jujur, dan penuh daya hidup.

Sejak dahulu, puisi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Nusantara. Beragam bentuk sastra seperti pantun, syair, gurindam, tembang, hingga puisi kontemporer tumbuh dari kekayaan bahasa dan tradisi yang dimiliki masyarakat Indonesia. Melalui puisi, berbagai nilai kehidupan, cinta, perjuangan, kritik sosial, hingga harapan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di tengah derasnya arus informasi digital, puisi justru menawarkan ruang untuk berhenti sejenak. Ia mengajak pembacanya merenungi kehidupan, menyelami makna di balik setiap peristiwa, serta memandang dunia dengan sudut pandang yang lebih peka dan manusiawi.

Tak sedikit karya puisi yang lahir sebagai bentuk keberanian menyuarakan kebenaran. Nama-nama seperti Chairil Anwar, W.S. Rendra, Sapardi Djoko Damono, hingga penyair muda masa kini menunjukkan bahwa puisi bukan hanya karya sastra, tetapi juga menjadi medium kritik, refleksi, dan harapan bagi masyarakat.

Peringatan Hari Puisi Indonesia juga menjadi ajakan untuk terus mencintai bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa. Berbagai kegiatan seperti pembacaan puisi, diskusi sastra, peluncuran buku, hingga pertunjukan seni digelar di berbagai daerah sebagai upaya mendekatkan puisi kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Di era modern yang serba cepat, puisi tetap menemukan tempatnya. Melalui larik-larik sederhana, puisi mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan kepekaan, empati, dan kemanusiaan. Karena itu, Hari Puisi Indonesia menjadi momentum untuk terus membaca, menulis, dan menghidupkan sastra sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....