Dampak Tambang dan Hujan Asam terhadap Kesehatan Manusia Perlu Diwaspadai
- 12 Jun 2026 08:06 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari – Aktivitas pertambangan dan industri yang menghasilkan emisi sulfur dioksida (SO₂) serta nitrogen oksida (NOₓ) dapat berkontribusi terhadap terbentuknya hujan asam. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat, terutama mereka yang tinggal di sekitar kawasan industri dan pertambangan.
Pakar kesehatan lingkungan dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Budi Haryanto, SKM, M.Kes, menjelaskan bahwa hujan asam terbentuk ketika gas pencemar di atmosfer bereaksi dengan uap air dan kemudian turun bersama hujan. Menurutnya, risiko terbesar bagi manusia bukan berasal dari tetesan hujan itu sendiri, melainkan dari partikel pencemar dan gas yang dihirup melalui udara.
"Paparan jangka panjang terhadap sulfur dioksida dan nitrogen oksida dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, memperparah asma, bronkitis, hingga menurunkan fungsi paru-paru," ujarnya.
Berdasarkan berbagai penelitian kesehatan lingkungan, partikel hasil reaksi pencemar penyebab hujan asam dapat masuk ke dalam paru-paru dan memengaruhi sistem pernapasan serta kardiovaskular. Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit paru maupun jantung.
Selain gangguan pernapasan, paparan polutan yang berkaitan dengan hujan asam juga dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit pada sebagian orang yang sensitif. Dalam jangka panjang, kualitas udara yang buruk akibat emisi industri dan pertambangan dapat meningkatkan risiko penyakit kronis.
Di sisi lain, hujan asam juga berdampak pada lingkungan dengan menurunkan kualitas tanah dan air, merusak vegetasi, serta mengganggu ekosistem perairan. Kerusakan lingkungan tersebut secara tidak langsung dapat memengaruhi kesehatan manusia melalui penurunan kualitas sumber air dan pangan.
Prof. Budi Haryanto mengimbau agar perusahaan pertambangan dan industri menerapkan pengendalian emisi secara ketat serta melakukan pemantauan kualitas udara secara berkala. Menurutnya, upaya pencegahan lebih penting daripada menunggu munculnya dampak kesehatan di masyarakat.
"Pembangunan ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan kesehatan masyarakat dan lingkungan. Pengendalian emisi merupakan investasi untuk masa depan yang lebih sehat," tegasnya.
Masyarakat juga disarankan menggunakan masker saat kualitas udara memburuk, mengurangi aktivitas luar ruangan ketika terjadi pencemaran udara tinggi, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan yang berkepanjangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....