Orang Tua Berperan Bangun Budaya Baca Anak di Era Digital
- 07 Okt 2026 10:49 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, orang tua menghadapi tantangan dalam membangun kebiasaan membaca pada anak. Kehadiran gawai, media sosial, gim, hingga berbagai konten digital membuat anak memiliki banyak pilihan hiburan yang terkadang lebih menarik dibandingkan buku.
Ketua Komunitas Read Aloud Kediri Raya atau RAKI, Silvia Kusuma Wardani, mengatakan perkembangan digital tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman terhadap budaya membaca. Menurutnya, teknologi juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana literasi selama penggunaannya tetap dibatasi dan diarahkan.
“Kita tidak bisa menutup semua akses, karena memang perkembangan digital sekarang ada plus minusnya. Jadi yang penting batasi waktunya, sisihkan waktu sebentar untuk membacakan buku,” ujar Silvia dalam dialog di RRI, Rabu, 07 Oktober 2026.
Ia menilai kunci utama dalam membangun kebiasaan membaca anak adalah konsistensi orang tua. Menurutnya, orang tua dapat menyediakan waktu khusus meskipun hanya sebentar setiap hari untuk membaca bersama anak. Selain buku cetak, orang tua juga dapat memanfaatkan buku digital berkualitas yang tersedia secara gratis.
Silvia mengingatkan, kebiasaan literasi di rumah juga penting untuk membentuk kemampuan anak dalam menyaring informasi. Tanpa kemampuan tersebut, anak maupun masyarakat secara umum akan lebih mudah mempercayai informasi yang belum tentu benar, termasuk kabar bohong atau hoaks yang beredar di media sosial.
“Kita ajarkan anak untuk meningkatkan literasi dengan menyaring informasi yang masuk,” katanya. Ia menambahkan, orang tua juga harus menjadi teladan dengan membiasakan diri membaca dan tidak mudah mempercayai informasi sebelum mengetahui kebenarannya.
Selain kemampuan memahami informasi, kebiasaan membaca bersama juga dapat membentuk karakter anak. Silvia menyebut membaca dapat menjadi sarana untuk mengasah empati, membangun resiliensi agar anak tidak mudah menyerah, serta mengenalkan nilai kerja sama dan fleksibilitas dalam menghadapi berbagai situasi.
Namun, Silvia mengingatkan orang tua agar tidak terlalu tinggi memasang ekspektasi ketika mengajarkan anak membaca. Jika anak belum tertarik, orang tua dapat mencari cara yang lebih menyenangkan, misalnya memberikan tantangan atau challenge dan penghargaan yang sesuai.
“Terlalu tinggi ekspektasinya. Terpenting pelan-pelan saja asal rutin. Sesuaikan dengan kebiasaan anak, cari celah pada anak,” ucapnya.
Silvia menegaskan, membangun budaya literasi tidak harus menunggu anak berusia tertentu atau menunggu kondisi ideal. Orang tua dapat memulainya dari hal sederhana di rumah dan dilakukan secara konsisten. “Tidak ada kata terlambat, kita mulai kapan pun, di mana pun. Bangun kebiasaan membaca, jadilah panutan, orang tua mencontohkan suka dengan membaca,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....