Literasi Jadi Bekal Anak Menghadapi Tantangan Masa Depan
- 07 Okt 2026 09:13 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Literasi dinilai menjadi salah satu bekal penting bagi anak dalam menghadapi tantangan di masa depan. Kemampuan literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, hingga memecahkan masalah.
Ketua Komunitas Read Aloud Kediri Raya atau RAKI, Silvia Kusuma Wardani, mengatakan kemampuan tersebut perlu dikenalkan kepada anak sejak usia dini. Menurutnya, masa perkembangan anak merupakan kesempatan yang baik untuk membangun fondasi literasi melalui kegiatan sederhana, salah satunya membacakan buku.
“Literasi bukan sekadar anak bisa baca tulis, tetapi lebih jauh adalah kemampuan untuk memahami sebuah bacaan, kemampuan berpikir kritis, bagaimana mereka memecahkan masalah yang bisa dimiliki anak ke depan nanti,” ujar Silvia, saat berdialog di RRI, Rabu, 07 Oktober 2026,.
Ia menjelaskan, peran orang tua sangat besar dalam membangun budaya literasi di lingkungan keluarga. Anak tidak hanya belajar secara formal di sekolah, tetapi juga belajar melalui kebiasaan yang mereka lihat dan contohkan dari orang tua di rumah.
Menurutnya, orang tua yang ingin anaknya memiliki kebiasaan membaca perlu terlebih dahulu memberikan contoh. Termasuk dalam menghadapi derasnya informasi di era digital, orang tua juga perlu menunjukkan kebiasaan menyaring informasi dan tidak mudah mempercayai kabar yang belum terbukti kebenarannya.
“Kalau mau anaknya tidak bermain gawai, ya orang tuanya harus melakukan hal yang sama. Kita bangun budaya di rumah sendiri dengan mencontohkan anak,” katanya. Ia menambahkan, orang tua dapat menyediakan buku bacaan yang menarik atau memanfaatkan berbagai buku digital berkualitas yang tersedia secara gratis.
Silvia juga mendorong orang tua membiasakan kegiatan read aloud atau membaca nyaring. Kegiatan tersebut dapat dilakukan sejak anak masih sangat kecil, bahkan menurutnya dapat dimulai sejak masa kehamilan. Saat membacakan buku, orang tua perlu memperhatikan pelafalan, jeda, intonasi, dan ekspresi agar anak lebih mudah memahami cerita.
“Kalau anak belum bisa membaca, tetap bisa. Kita mengajarkan anak berpikir, memahami apa yang dibacakan, bahkan memecahkan sebuah masalah,” jelasnya. Ia menilai kebiasaan membaca juga dapat membantu membangun empati, resiliensi, kemampuan bekerja sama, dan fleksibilitas pada anak.
Silvia berpesan agar orang tua tidak menetapkan ekspektasi terlalu tinggi ketika mulai membangun kebiasaan membaca. Menurutnya, hal terpenting adalah konsistensi dan menyesuaikan kegiatan dengan minat anak. “Tidak ada kata terlambat. Kita mulai kapan pun, di mana pun. Bangun kebiasaan membaca dan jadilah panutan, orang tua mencontohkan suka dengan membaca,” ucapnya berharap.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....