Ciptakan Budaya Literasi, GPAN Kediri Gelar Festivaria Sastra Anak Dhahanapura
- 20 Sep 2026 13:42 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara (GPAN) Regional Kediri menggelar HOMPIMPA! Festivaria Sastra Anak Dhahanapura untuk mendorong terciptanya budaya literasi di kalangan anak. Kegiatan yang berlangsung di Rumah Budaya - Warung Setono Goerih, Minggu, 20 September 2026, tersebut menjadi ruang bagi anak untuk mengenal sastra, membaca, dan permainan tradisional melalui berbagai aktivitas.
HOMPIMPA! Festivaria Sastra Anak Dhanapura berlangsung selama tiga hari sejak 18 September 2026 dengan melibatkan sekitar 150 peserta. Puncak sekaligus pembukaan resmi kegiatan dilaksanakan pada hari ini, Minggu, 20 September 2026, dimpimpin oleh Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Kediri, Zachrie Achmad.
Rangkaian kegiatan meliputi lokakarya, zine kolase, kartu pos sastra, diskusi sastra, refleksi budaya, bedah proses kreatif penulis, pameran zine, peluncuran karya, puisi on the spot, panggung bebas, dongeng anak, bazar buku, hingga talkshow bedah buku. Ketua Pelaksana HOMPIMPA! Festivaria Sastra Anak Dhanapura, Gema Rohullah Khumaini, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap masih terbatasnya perhatian terhadap sastra anak, meski kegiatan literasi dan sastra mulai berkembang.
Menurutnya, sastra anak memiliki karakter tersendiri karena bahasa dan tema harus disesuaikan dengan perkembangan usia anak. "Kegiatan literasi mulai meningkat dan sastra juga mulai mendapat perhatian. Tetapi, sastra anak masih relatif sepi peminat. Padahal, sastra anak memiliki karakter tersendiri, baik dari bahasa maupun tema yang harus disesuaikan dengan tahapan usia anak," ujar Gema.
Selain sastra, GPAN juga menyoroti perubahan pola bermain anak yang semakin bergeser ke aktivitas digital. Gema menilai kondisi tersebut membuat ruang permainan yang bersifat komunal dan sosial semakin berkurang, sehingga festival juga menjadi upaya mengenalkan kembali dolanan tradisional melalui berbagai medium.

"Kalau dulu anak-anak masih banyak menemukan permainan yang sifatnya komunal dan sosial. Sekarang aktivitas mereka banyak bergeser ke permainan digital yang lebih individual. Ini yang coba kami gugah kembali agar khasanah sastra dan permainan anak menjadi lebih luas," katanya.
Gema mengatakan pengenalan sastra anak tidak harus terbatas pada buku, tetapi dapat dilakukan melalui musikalisasi guritan, musikalisasi puisi, cerita anak dwibahasa, hingga dongeng. Ia berharap upaya tersebut berlanjut setelah festival dan melibatkan orang tua, guru, masyarakat, komunitas, serta pemerintah.
"Jangan sampai sastra anak hanya berhenti di festival. Setelah kegiatan ini selesai, harus ada efek yang bertahan. Orang tua, guru, masyarakat, dan pemerintah bisa mengambil peran untuk terus mengenalkan sastra dan dolanan anak," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Kediri, Zachrie Achmad, mengapresiasi keterlibatan komunitas dalam mendorong kegemaran membaca anak. Menurutnya, kolaborasi antara komunitas dan pemerintah dapat memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan sekaligus mendukung peningkatan literasi.
"Kegiatan seperti ini penting karena dapat mendorong anak-anak untuk gemar membaca dan menambah pengetahuan. Dampaknya tentu tidak hanya dirasakan sekarang, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap masa depan mereka," kata Zachrie.

Zachrie mengatakan perkembangan teknologi digital menjadi salah satu tantangan dalam membangun budaya membaca berbasis buku. Karena itu, penyediaan bahan bacaan perlu mengikuti kebutuhan masyarakat, termasuk melalui koleksi digital dan tempat membaca yang nyaman.
"Tantangannya adalah bagaimana membuat masyarakat kembali mencintai buku di tengah dunia digital. Karena itu, kebutuhan pembaca harus diikuti, termasuk dengan menyediakan buku dalam bentuk digital dan menciptakan tempat membaca yang nyaman," ujarnya.
Salah satu pengunjung, Dely, menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman positif bagi anak karena tidak hanya mengenalkan literasi, tetapi juga melatih kemampuan motorik dan menjadi alternatif dari penggunaan gawai. "Semoga kegiatan seperti ini bisa berlangsung rutin untuk mempertahankan kebiasaan literasi anak sekaligus menjaga kelestarian permainan tradisional yang ada di Indonesia," kata Dely.
HOMPIMPA! Festivaria Sastra Anak Dhanapura turut dihadiri perwakilan Dinas Pendidikan Kota Kediri, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Kediri, serta relawan literasi masyarakat. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang berkelanjutan untuk mempertemukan anak, keluarga, komunitas, dan masyarakat dalam aktivitas literasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....