Ustaz Ahmad Fakhruddin Ingatkan Tanggung Jawab Jempol di Medsos

  • 06 Okt 2026 07:51 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Perkembangan media sosial membuat masyarakat semakin mudah memperoleh dan menyebarkan berbagai informasi. Namun, kemudahan tersebut juga menuntut tanggung jawab agar setiap informasi yang dibagikan tidak menimbulkan dampak buruk bagi orang lain. Hal ini disampaikan Ustaz Dr. Ahmad Fakhruddin, Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Jombang, dalam kajian Mutiara Pagi.

Ustaz Ahmad Fakhruddin mengibaratkan dunia saat ini berada di ujung jari manusia. Hanya dengan menggunakan telepon genggam, seseorang dapat mengetahui berbagai peristiwa sekaligus memberikan komentar, menyampaikan pendapat, maupun menyebarkan informasi hanya dalam hitungan detik.

Menurutnya, kondisi tersebut harus diimbangi dengan kemampuan mengendalikan diri. Jangan sampai seseorang begitu cepat menilai dan menghakimi orang lain, tetapi lupa mempertanyakan apakah dirinya sendiri sudah berhati-hati dalam menggunakan media sosial.

Ia mengingatkan, setiap tulisan, komentar, unggahan, maupun informasi yang dibagikan di media sosial tetap memiliki konsekuensi. Karena itu, jempol yang digunakan untuk membagikan informasi juga harus dipertanggungjawabkan.

“Bisa jadi sesuatu yang disebarkan hanya membutuhkan waktu lima detik untuk dikirim, tetapi membutuhkan waktu berhari-hari untuk memperbaiki dampaknya,” kata Ustaz Ahmad Fakhruddin, Selasa, 6 Oktober 2026.

Ia mencontohkan kebiasaan membagikan berita hanya berdasarkan judul yang memancing emosi. Padahal, seseorang belum tentu membaca keseluruhan isi berita atau memastikan kebenaran informasinya. Jika informasi tersebut ternyata hoaks, dampaknya dapat menyebar kepada banyak orang sebelum kesalahan tersebut disadari.

Ustaz Ahmad Fakhruddin kemudian mengingatkan umat Islam untuk melakukan tabayun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya. Prinsip tersebut sejalan dengan ajaran Islam agar setiap informasi yang datang diperiksa terlebih dahulu sehingga tidak menimbulkan kerugian bagi pihak lain.

Selain berhati-hati dalam menyebarkan informasi, ia juga mengajak masyarakat melakukan evaluasi terhadap perilaku diri sendiri. Ketika tidak ingin dibohongi, seseorang harus berusaha untuk selalu jujur. Ketika tidak ingin menjadi bahan pembicaraan, seseorang juga perlu menjaga lisannya agar tidak membicarakan keburukan orang lain.

Melalui sikap tersebut, penggunaan media sosial diharapkan tidak hanya menjadi sarana memperoleh informasi, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga akhlak. Ustaz Ahmad Fakhruddin menekankan pentingnya menjadikan setiap aktivitas, termasuk aktivitas di dunia digital, sebagai bagian dari upaya memperbaiki diri dan mempersiapkan bekal kehidupan akhirat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....