Kejadian Karhutla Meningkat, Jombang Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor

  • 30 Sep 2026 19:14 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang - Meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama puncak musim kemarau mendorong Kabupaten Jombang memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam upaya pencegahan dan penanganannya. Sinergi pemerintah, aparat, perangkat desa, dan masyarakat diperlukan untuk mempercepat respons sekaligus mencegah kebakaran meluas.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Jombang, Wiku Birawa Felipe Diaz Quintas, mengatakan kondisi kemarau yang disertai angin kencang meningkatkan potensi terjadinya karhutla. Berdasarkan peringatan dini BMKG, sebagian besar wilayah Jawa Timur masih berada pada periode puncak musim kemarau.

“Situasi kemarau yang disertai angin kencang perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko karhutla. Kecepatan angin yang tinggi juga berpotensi membuat api lebih cepat menyebar,” ujar Wiku, Rabu, 30 September 2026.

Berdasarkan data BPBD Jombang hingga 20 September 2026, tercatat 157 kejadian kebakaran hutan dan lahan yang tersebar di 20 kecamatan. Jumlah kejadian menunjukkan tren peningkatan, dari satu kejadian pada Mei, dua kejadian pada Juni, menjadi 36 kejadian pada Juli, 52 kejadian pada Agustus, dan 65 kejadian hingga September.

Total luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 148,6 hektare. Lima kecamatan dengan kejadian karhutla terbanyak meliputi Jombang, Mojoagung, Mojowarno, Diwek, dan Ngoro. Rata-rata luas lahan yang terbakar dalam setiap kejadian sekitar 0,9 hektare dan sebagian besar kejadian berlangsung pada sore hari.

BPBD Jombang juga telah memetakan tingkat risiko karhutla berdasarkan karakteristik wilayah. Kecamatan Wonosalam menjadi salah satu kawasan dengan tingkat risiko tinggi karena memiliki wilayah hutan dan vegetasi yang cukup dominan.

Risiko sedang hingga tinggi juga terdapat di sebagian wilayah Kecamatan Bareng, Ngoro, dan Mojowarno. Sementara Plandaan, Kabuh, dan Ngusikan memiliki sejumlah lahan kering atau tegalan yang masuk kategori risiko sedang.

Menurut Wiku, upaya penanganan karhutla masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Kondisi tersebut antara lain akses menuju lokasi yang sulit, keterbatasan sumber air, jumlah personel, peralatan pemadam dan alat pelindung diri, hingga kendala komunikasi di wilayah tertentu.

“Penanganan karhutla membutuhkan kesiapan bersama. Kendala akses, sumber air, personel, peralatan, komunikasi, maupun koordinasi harus diantisipasi agar respons di lapangan bisa lebih cepat dan efektif,” kata Wiku.

Untuk mempercepat penanganan, BPBD Jombang memperkuat koordinasi dengan unsur TNI-Polri, pemerintah desa, serta masyarakat. Kolaborasi tersebut terutama dibutuhkan dalam merespons laporan kebakaran sejak tahap awal agar api tidak berkembang dan meluas.

Wiku menilai masyarakat juga memiliki posisi penting dalam pencegahan karhutla. Warga diminta menghindari pembakaran sampah, jerami, daun kering, maupun material mudah terbakar di lahan terbuka, terutama ketika cuaca panas dan angin bertiup kencang.

“Pencegahan tidak hanya bergantung pada petugas. Masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga lingkungan, termasuk dengan tidak mengabaikan api kecil dan segera melaporkan jika terjadi kebakaran,” ucap Wiku.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....