Sisa-Sisa Artefak Telepon Umum Masih Banyak Dijumpai di Kediri

  • 22 Sep 2026 07:24 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • Keberadaan sisa artefak telepon umum menjadi monumen bisu yang menolak lupa akan sisa kejayaan alat telekomunikasi tempo dulu
  • Telepon umum koin dulu merupakan fasilitas publik dengan peran vital mengoneksikan banyak orang sebelum era smartphone menggenggam dunia

RRI.CO.ID, Kediri – Sisa-sisa artefak telepon umum koin rupanya masih banyak dijumpai dan masih berdiri kokoh di sejumlah sudut strategis, salah satunya di Jalan Tamtama, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Hal ini tentu mengundang momen nostalgia mendalam bagi siapa saja yang melintasinya.

Keberadaan kotak besi berwarna biru ikonik warisan PT Telkom ini seolah menjadi monumen bisu yang menolak lupa akan sisa kejayaan alat telekomunikasi tempo dulu. Telepon umum kini menyisakan puing-puing sejarah dengan beragam memorinya yang mengingatkan masyarakat pada era ketika komunikasi antar manusia benar-benar butuh perjuangan nyata.

“Telepon umum koin dulu merupakan fasilitas publik dengan peran vital yang mengoneksikan banyak orang sebelum era smartphone menggenggam dunia. Saya ingat betul telepon umum tidak pernah sepi karena ada saja yang mengantre,” kata Agus Hariadi, Staf Kecamatan Ngadiluwih, Selasa, 22 September 2026.

Pria 44 tahun yang bertugas menangani pelayanan administrasi harian masyarakat ini turut mengenang era kejayaan telepon umum koin yang meluas pada era 80-an. “Dulu kalau mau pakai telepon koin harus ke Kota Kediri. Saya masih ingat betul dulu cuma ada di area sekitar Stasiun Kediri, Jalan Dhoho, area Pasar Setonobetek, hingga perempatan BI Kediri,” ujar Agus.

Mulai dari kalangan pelajar yang ingin dijemput orang tuanya atau sekadar menanyakan PR, pekerja rantau yang merindukan keluarga, hingga pasangan yang memadu kasih, semuanya pernah menggantungkan harapan pada telepon umum koin. Bagi generasi 80-an dan 90-an, fasilitas publik ini menyimpan romansa perjuangan yang tidak akan terlupakan.

“Saya ingat betul bunyi khas koin logam pecahan Rp 50 atau Rp 100 yang jatuh ke mesin penampung ketika panggilan terhubung. Obrolan terasa berharga karena durasi pembicaraan benar-benar dihitung oleh durasi hingga menipisnya koin di kantong,” ucap Agus seraya mengenang antusiasme warga saat keberadaan telepon umum meluas ke wilayah pedesaan.

Meskipun tidak lagi berfungsi dan kondisinya sudah tidak terawat, sisa-sisa artefak telepon umum koin justru bertransformasi menjadi instalasi seni yang memicu memori kolektif warga akan indahnya masa lalu. Bahkan, tidak jarang pejalan kaki yang banyak menjadikannya objek fotografi estetis bertema retro tentang sejarah perkembangan teknologi di tanah air.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....