Harga Beras Naik, Warga Kediri Banyak Beralih ke Beras Lokal

  • 15 Sep 2026 17:55 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri – Kenaikan harga beras membuat sejumlah warga di Kabupaten Kediri beralih mengonsumsi beras lokal yang harganya lebih terjangkau. Perubahan pilihan tersebut terlihat dari meningkatnya minat konsumen terhadap beras lokal di tengah kenaikan harga beras jenis medium dan premium di pasaran yang kembali terjadi.

Sriati, salah satu pedagang di Pasar Tradisional Pamenang Pare, mengatakan konsumen saat ini lebih banyak mempertimbangkan harga sebelum membeli beras.

“Harga beras premium saat ini kisaran Rp75.000 sampai Rp80.000 per kemasan lima kilogram. Sementara jika dihitung per kilogram, harganya Rp15.000 sampai Rp16.000,” ujarnya, Selasa, 15 September 2026.

Sriati menyebut, harga beras premium meningkat dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran Rp14.000 per kilogram. Kenaikan juga terjadi pada beras medium yang kini dijual sekitar Rp14.000 per kilogram dari sebelumnya Rp13.000 per kilogram.

Sriati menyebut kondisi tersebut turut memengaruhi keputusan pedagang dalam menyediakan stok. Ia tidak berani mengambil beras jenis premium dan medium dalam jumlah besar karena khawatir permintaan konsumen menurun.

“Sekarang pembeli lebih banyak mencari beras yang harganya murah. Kalau untuk premium dan medium, saya tidak berani mengambil terlalu banyak karena harganya sudah tinggi,” jelasnya.

Menurut Sriati, sebagian konsumen yang sebelumnya membeli beras premium atau medium kini memilih beras eceran maupun beras lokal. Pilihan tersebut dilakukan karena selisih harganya cukup signifikan.

“Beras lokal sekitar Rp10.100 sampai Rp11.000 per kilogram. Alternatifnya banyak warga jadi lebih memilih ambil beras lokal,” katanya.

Sementara itu, Direktur Paskomnas Indonesia, Ir. Soekam Parwadi, mengatakan kondisi harga beras tidak terlepas dari ketersediaan produksi padi. Jawa Timur yang selama ini menjadi salah satu daerah penghasil beras utama juga menghadapi kendala produksi akibat kondisi musim.

Soekam menjelaskan, musim kemarau yang disertai fenomena El Nino berdampak terhadap ketersediaan air untuk lahan pertanian. Kondisi tersebut menyebabkan luas lahan sawah yang dapat ditanami padi menjadi lebih terbatas.

“Di Jawa Timur paling unggul yang di produksi beras. Tapi di musim kemarau, apalagi El Nino seperti sekarang ini, itu berpengaruh. Terlebih kondisi bendungannya sedikit, sehingga jumlah luas lahan sawah yang bisa ditanami padi lebih kecil lagi,” jelas Soekam.

Menurut Soekam, keterbatasan luas tanam tersebut berpengaruh terhadap produksi gabah kering panen.

“Ketika produksi berkurang, ketersediaan bahan baku beras di pasaran ikut terbatas. Kondisi itu kemudian turut memengaruhi harga beras yang diterima konsumen,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....