Sejarah dan Budaya Dibalik Desa Gadungan, Kabupaten Kediri
- 09 Sep 2026 05:37 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri – Kediri menyimpan beragam sejarah dan budaya salah satunya terdapat di desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Sejarah dan budaya desa Gadungan patut untuk dipahami bagi generasi muda agar dapat mengenali tanah kelahirannya.
Desa Gadungan dahulu kala tepatnya pada tahun sebelum 1763 merupakan sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Marumi yang dipimpin oleh seorang raja bernama Sutowijoyo. Raja Sutowijoyo memiliki tiga orang putra yang bernama Joko Begadung, Dewi Sutiyem atau Melati Putih, dan Clontang Kusumo.
Dalam kesempatan Dialog Pagi RRI Kediri, Selasa, 08 September 2026, Mohamad Budiono selaku Guru MTS Hasanudin Pare, Kabupaten Kediri menjelaskan sejarah dari penamaan desa gadungan. “Pada suatu hari terdapat kakak beradik yang berasal dari kerajaan Bali yang bernama Kebo Lelono dan Kebo Kusumo mendatangi kerajaan Marumi yang berniat untuk melamar Dewi Sutiyem karena paras kecantikannya pada masa itu. Dalam lamaran itu sang raja Sutowijoyo tidak berkenan dengan kehadiran kakak beradik itu untuk melamar anaknya. Kemudian kakak beradik itu bertanya kepada sang raja, apakah benar ini kerjaan Marumi?. Lalu sang raja menjawab bukan, ini kerajaan Gadungan,” ujar Budiono sapaan akrabnya.
Ia juga menyampaikan melestarikan budaya yang ada didesa gadungan setiap bulan suro selalu mengadakan upacara budaya keliling desa gadungan dengan membawa sebuah pusaka bernama keris punden. Selain itu juga terdapat beberapa peninggalan sejarah seperti petilasan keramat atau mbakut dan punden/situs di dusun Beji.
Rangkaian upacara yang dilakukan setiap bulan suro yaitu dimulai dengan dikeluarkannya rangka keris punden yang diletakkan diatas bokor, lalu keris tersebut dilakukan ritual langeng bekso atau uyon-uyon dengan diiringi gamelan lengkap. “Itu merupakan kebudayaan yang ada di desa Gadungan dan perlu untuk dilestarikan. Generasi muda sekarang khususnya pemuda asli desa Gadungan harus mengetahui kebudayaan ini agar nantinya kebudayaan ini tidak punah.” ucapnya.
Nilai-nilai kearifan lokal terus digaungkan kepada seluruh generasi muda desa Gadungan sehingga dapat dipahami dan dilestarikan, “banyak kearifan lokal yang ada di desa Gadungan, salah satu contohnya adalah terdapat larangan yang tidak boleh dilanggar oleh masyarakat desa Gadungan yaitu tidak boleh memakai jarik parang barong, tidak boleh menanam padi, udeng gadung melati,” ujarnya.
Dalam akhir dialog Budiono memberikan pesan kepada generasi muda khususnya pemuda-pemudi desa Gadungan, "Kita sebagai masyarakat lintas generasi jangan sampai melupakan sejarah, karena sejarah itu membawa kita sampai sekarang tidak terlepas akan sejarah yang ada. Wajib bagi kita untuk mengetahui sejarah yang ada, dimulai dari lingkup sejarah terkecil yaitu desa, kabupaten, provinsi, hingga negara kita," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....