Kemarau Panjang, Petani Jagung di Kediri Terancam Gagal Panen

  • 08 Sep 2026 17:00 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri – Puncak musim kemarau 2026 mulai berdampak terhadap pertanian di Kabupaten Kediri. Sejumlah petani jagung di area persawahan Desa Bringin, Kecamatan Badas, menghadapi ancaman gagal panen karena tanaman mulai kekurangan pasokan air.

Kondisi kekeringan membuat sebagian tanaman jagung mengalami perubahan warna menjadi kuning dan mengering. Pertumbuhan tanaman yang tidak maksimal tersebut dikhawatirkan menurunkan produktivitas serta menyebabkan kerugian bagi petani.

Salah satu petani jagung di Desa Bringin, Darmawan, mengatakan keterbatasan air menjadi persoalan utama yang dihadapi selama puncak musim kemarau. Kondisi tersebut semakin berat karena suhu udara yang panas membuat tanaman lebih cepat kehilangan kelembapan.

“Kendalanya sekarang banyak daun-daun yang kering dan jadi menguning. Istilahnya ngresek. Jadi produksi panennya tidak bisa maksimal,” katanya, kepada RRI, Selasa, 8 September 2026.

Darmawan menyebut, apabila kondisi kekeringan terus berlangsung, hasil panen jagung berpotensi turun secara signifikan. Penurunan produksi tersebut dapat berdampak pada pendapatan petani dan menimbulkan kerugian yang nilainya mencapai jutaan rupiah.

“Saat ini air semakin sulit didapat, sementara cuaca sangat panas. Kalau kondisi ini terus berlangsung, hasil panen tentu akan berkurang dan kami bisa mengalami kerugian,” ujar Darmawan.

Kondisi tersebut sejalan dengan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG Kediri yang menyebut bahwa pada September 2026 menjadi salah satu periode puncak musim kemarau di wilayah Kediri dan sekitarnya. Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik BMKG Stasiun Meteorologi Kelas Tiga Dhoho Kediri, Satria Kridha Nugraha, menjelaskan kondisi kemarau tahun ini turut dipengaruhi fenomena El Nino.

Fenomena tersebut berpotensi membuat musim kemarau berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. “Sejak awal tahun 2026, BMKG sudah menyampaikan adanya potensi El Nino. Fenomena ini dapat menyebabkan musim kemarau menjadi lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal,” ujar Satria.

Satria menambahkan, sebagian besar wilayah Jawa Timur, termasuk Kediri dan sekitarnya, telah memasuki periode puncak musim kemarau. Kondisi tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober, meskipun secara normal periode September – Oktober seharusnya sudah mulai memasuki masa peralihan menuju musim penghujan.

“Secara normal periode September – Oktober biasanya sudah masuk masa peralihan musim kemarau ke musim penghujan. Tapi karena ada El Nino ini, diprediksikan curah masih relatif rendah dengan kisaran nol hingga 50 milimeter per bulan,” kata Satria.

Dengan kondisi tersebut, petani perlu mengantisipasi dampak kekeringan, terutama terhadap ketersediaan air untuk tanaman. Pengelolaan sumber air secara efisien menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempertahankan kondisi tanaman selama periode tanpa hujan.

Petani juga perlu mempertimbangkan kondisi ketersediaan air dalam menentukan pola tanam. Langkah tersebut penting untuk menekan risiko kerusakan tanaman sekaligus mengurangi potensi kerugian akibat penurunan hasil produksi selama puncak musim kemarau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....