Gema Sajadah Jadikan Sampah Muktamar Bernilai Sedekah

  • 28 Agt 2026 19:56 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang – Gerakan Bersama Sampah Jadi Sedekah (Gema Sajadah) Kementerian Agama Kabupaten Jombang menjadikan pengelolaan sampah selama Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari gerakan sedekah.

Sebanyak 500 relawan Pasukan Semut dikerahkan untuk mengumpulkan sampah di lima titik kawasan Muktamar, meliputi Gang 3, Gang Pondok, Gang 4, Al Madinah, dan kawasan bazar. Untuk mendukung pengumpulan sampah, Gema Sajadah juga menempatkan 27 drop box di sejumlah lokasi yang telah ditentukan.

Relawan Pasukan Semut berasal dari tujuh satuan pendidikan di Kabupaten Jombang, yakni MIN 1, MTsN 1, MTsN 4, MTsN 16, MAN 1, MAN 4, dan MAN 8 Jombang. Mereka bertugas mengumpulkan sampah sekaligus memastikan sampah tidak berserakan di kawasan yang menjadi lokasi kegiatan Muktamar.

Agen Perubahan Gema Sajadah Kemenag Jombang, Leily Irawatie Hasan, mengatakan gerakan tersebut tidak hanya berorientasi pada kebersihan. Keterlibatan para pelajar juga dimanfaatkan sebagai sarana membangun karakter dan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.

“Gerakan Bersama Sampah Jadi Sedekah atau Gema Sajadah Kemenag Jombang bersama relawan Pasukan Semut di arena Muktamar merupakan wujud khidmah Kementerian Agama dalam menjaga kebersihan sekaligus mendukung kelancaran agenda keumatan. Lebih dari sekadar membersihkan lingkungan, gerakan ini juga menjadi media pendidikan karakter untuk menumbuhkan kepedulian dan kecintaan murid terhadap lingkungan hidup sejak dini,” ujar Leily, Jumat, 28 Agustus 2026.

Menurut Leily, keterlibatan pelajar diharapkan tidak berhenti selama pelaksanaan Muktamar. Kebiasaan menjaga kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan diharapkan dapat terbawa dalam kehidupan sehari-hari.

“Mereka sudah bergerak sejak Rabu, 26 Agustus 2026, hingga nanti hari Minggu, 30 Agustus 2026,” katanya.

Melalui konsep “sampah jadi sedekah”, sampah yang terkumpul tidak hanya diposisikan sebagai persoalan yang harus dibersihkan.

“Pengelolaannya diarahkan agar memiliki nilai sosial sekaligus mendorong masyarakat melihat sampah sebagai sesuatu yang dapat memberikan manfaat ketika dikelola dengan baik,” jelasnya.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi praktik ekoteologi dalam lingkungan Muktamar. Kepedulian terhadap alam diterjemahkan dalam tindakan nyata melalui upaya menjaga kebersihan ruang bersama sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.

Selama pelaksanaan Muktamar, keberadaan Pasukan Semut di lima titik kawasan kegiatan menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan tetap tertata. Gerakan ini mempertemukan nilai keumatan dengan kepedulian terhadap lingkungan melalui tindakan sederhana, yakni mengelola sampah secara bertanggung jawab dan menjadikannya bagian dari gerakan sedekah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....