Pemkot Kediri Dorong Pesantren Jadi Ruang Aman Bagi Santri
- 19 Agt 2026 17:38 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri – Pemerintah Kota Kediri mendorong pondok pesantren menjadi ruang pendidikan yang aman dan nyaman bagi santri, termasuk dalam aspek kesehatan fisik dan mental. Dorongan tersebut disampaikan Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati saat membuka Rapat Koordinasi Tim Pembina Pesantren Sehat di Ruang Joyoboyo, Balai Kota Kediri, Rabu, 19 Agustus 2026.
Vinanda mengatakan pesantren memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda. Karena itu, lingkungan pendidikan agama perlu memberikan perhatian yang seimbang terhadap pendidikan, kesehatan, keamanan, serta perlindungan santri.
Berdasarkan data Kementerian Agama Kota Kediri, terdapat 68 pondok pesantren di wilayah tersebut. Keberadaan pesantren yang cukup banyak dinilai menjadi modal bagi Kota Kediri untuk berkembang sebagai salah satu pusat pendidikan agama di Jawa Timur.
“Kalau kita berbicara tentang pesantren, yang dibahas bukan hanya pendidikan agama. Ada kesehatan, keamanan, lingkungan, perlindungan anak, kualitas sumber daya manusia, dan masa depan Kota Kediri yang juga harus kita pastikan,” ujar Vinanda.
Menurutnya, kehidupan santri yang berlangsung secara komunal dapat memperkuat kebersamaan. Namun, pola tersebut juga memiliki risiko terhadap kesehatan apabila aspek kebersihan dan sanitasi tidak dikelola secara baik.
Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian antara lain kebersihan kamar dan kamar mandi, pengelolaan sampah, sanitasi, makanan dan air bersih, serta kebiasaan menjaga kebersihan diri. Persoalan gizi, anemia pada santriwati, kesehatan reproduksi, aktivitas fisik, hingga kesehatan mental juga perlu masuk dalam pembinaan kesehatan pesantren.
“Pesantren sehat tidak cukup hanya dilihat dari kebersihan lingkungannya. Yang lebih penting, pesantren mampu mendukung kesehatan fisik, mental, dan sosial para santri,” jelasnya.
Vinanda menegaskan, terciptanya pesantren sehat tidak dapat hanya mengandalkan program pemerintah. Perubahan perilaku seluruh warga pesantren menjadi kunci agar pola hidup sehat dapat menjadi kebiasaan sehari-hari.
Ia mendorong upaya menjaga kesehatan ditanamkan sebagai bagian dari akhlak santri. Edukasi mengenai anemia dan kesehatan reproduksi juga dinilai perlu diperkuat, terutama bagi santriwati.
“Mari kita bangun budaya pesantren yang sehat. Santrinya tidak hanya alim, tetapi juga sehat, cerdas, bugar, berakhlak, dan memiliki kepedulian terhadap kebersihan,” ucapnya.
Selain kesehatan fisik, Pemkot Kediri memberikan perhatian terhadap kesehatan mental dan keamanan santri. Vinanda meminta praktik perundungan, kekerasan fisik, kekerasan verbal, kekerasan seksual, maupun intimidasi tidak dianggap sebagai bagian yang wajar dalam proses pendidikan.
Menurutnya, keberadaan senioritas di lingkungan pesantren harus tetap ditempatkan dalam batas pendidikan yang sehat. Proses mendidik dan mendisiplinkan santri tidak semestinya dilakukan melalui tindakan yang merendahkan atau menggunakan kekerasan.
“Santri harus merasa aman ketika bertanya, menyampaikan masalah, maupun mencari pertolongan saat menghadapi sesuatu yang tidak baik. Pesantren harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang mereka,” katanya.
Dari sisi layanan kesehatan, Pemkot Kediri melalui Dinas Kesehatan telah melakukan pembinaan terhadap pondok pesantren. Pada 2024, sebanyak 40 pesantren tercatat telah mendapatkan pembinaan, sedangkan 35 di antaranya telah memiliki pos kesehatan pesantren atau poskestren aktif.
Vinanda berharap keberadaan poskestren dapat diperluas hingga seluruh pesantren di Kota Kediri. Poskestren menurutnya tidak hanya berfungsi ketika santri mengalami sakit, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan pencegahan masalah kesehatan.
“Poskestren jangan hanya menjadi tempat pemeriksaan saat ada santri yang sakit. Fungsinya harus diperkuat sebagai pusat edukasi, pencegahan, dan pembudayaan perilaku hidup sehat,” jelasnya.
Penguatan kader kesehatan santri atau santri husada juga dinilai penting untuk menggerakkan perilaku hidup bersih dan sehat dari dalam lingkungan pesantren. Dengan demikian, upaya menjaga kesehatan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun tenaga kesehatan.
Vinanda menilai penciptaan pesantren sehat membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pengelola pesantren, Kementerian Agama, organisasi keagamaan, puskesmas, tenaga kesehatan, dan para santri. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membentuk lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan santri secara menyeluruh.
“Pesantren bukan hanya tempat belajar ilmu agama. Pesantren harus menjadi tempat yang aman bagi setiap santri untuk tumbuh dan berkembang, sehingga Kota Kediri dapat menjadi pusat pendidikan agama yang sehat, aman, nyaman, dan berkemajuan,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....