Momen Peringatan Tahun Baru Islam 1448 H dan Pagelaran Seni Islami

  • 17 Jun 2026 04:06 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri – Peringatan tahun baru islam 1448 H menjadi momen penting bagi seluruh umat muslim. Masjid Agung An-Nur Pare, Kabupaten Kediri menggelar pagelaran seni islami di sekitaran halaman masjid.

Pagelaran seni islami dilaksanakan melihat latar belakang Kabupaten Kediri yang identik dengan kayanya seni kebudaya dan keagamaan yang ada. Berawal dari mimpi para pemuda Pare yang ingin meramaikan peringatan tahun baru Islam atau 1 Suro ini dengan kegiatan positif terutama di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Dalam kesempatan Dialog Beranda Astacita (Kentongan) live studio RRI Kediri, Selasa, 16 Juni 2026, PJ Umum Pagelaran Seni Budaya Achmad Luqmanul Hakim menjelaskan pagelaran seni islami ini merupakan kegiatan pertama dan terbesar yang diselenggarakan. “Sebelumnya kami setiap tahunnya di momen tahun baru islam biasanya kami menggelar di setiap kampung, Pare, Badas, Jombangan dan daerah lainnya. Kegiatan ini telah diselenggarakan sebanyak enam kali, namun kegiatan ini kita awali yang terbesar dan pertama kali kita gelar. Selain itu juga kita ingin masyarakat Pare mengetahui akan kegiatan ini, karena memang sebelumnya hanya pada daerah tertentu saja yang mengetahui,” ujar Luqman sapaan akrabnya.

Ia juga menyampaikan bahwa bertepatan pada bulan Muharram ini alangkah baiknya diisi dengan kegiatan positif seperti ibadah, mujahadah, syiar agama islam, ataupun melakukan tadabur islam. Kegiatan seperti pagelaran seni islami yang seharusnya menjadikan contoh bagi anak muda di wilayah Pare dalam menyemarakkan peringatan tahun baru islam.

Kegiatan pagelaran seni islami ini akan diselenggarakan selama 4 hari, dimulai dari tanggal 17 – 20 Juni 2026. Beberapa agenda kegiatan yang akan digelar dalam pagelaran seni islami nantinya.

“Pagelaran kita berkolaborasi dengan beberapa komunitas yang ada di kecamatan Pare, ada Majelis Shofwatul Qulub, Sastra Pare, Gusdurian Mojo Kutho, Group Al-Banjari Anaman Kediri. Hari pertama nanti kita awali dengan pembukaan musical gambus, pertemuan musisi gambus se-Kediri raya,” ucapnya.

Luqman menjelaskan pada pagelaran yang ditampilkan menggunakan media seni islami sebagai instrument utama yang ditampilkan. “melihat kilas balik sejarah pare pada zaman dahulu yang disebut sebagai mojo kutho banyak sekali menyimpan unsur sejarah. Mulai dari banyaknya perbedaan agama yang ada namun masih tetap rukun, peninggalan sejarah mulai dari bangunan lama hingga situs candi kuno. Sebelumnya pun Mojo Kutho itu sendiri memiliki histori bahwa pernah berdiri sendiri hingga timbul keinginan untuk menjadi kawasan sendiri. Maka dari itu untuk kita tetap menjaga dan melestarikan budaya yang ada dengan cara melakukan apa yang seperti kita lakukan saat ini, nguri-nguri budaya,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....