Peringati Perubahan Nama Bung Karno, Situs Ndalem Pojok Kediri Gelar Ruwat Agung
- 14 Jun 2026 16:15 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Perubahan nama Sang Proklamator Kemerdekaan RI, dari Koesno menjadi Soekarno, diperingati secara khidmat melalui perhelatan budaya bertajuk Ruwat Agung Soekarno, pada Minggu, 14 Juni 2026
Pada acara yang berlangsung di Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri ini mengusung misi besar, yaitu mengembalikan jati diri bangsa sekaligus mendukung visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Rumah tua Ndalem Pojok dipilih karena nilai historisnya yang kuat sebagai tempat masa kecil Bung Karno berganti nama atas restu sesepuh agung Raden Mas Panji Somohatmojo.
Acara yang diinisiasi oleh pengelola situs dan Perkumpulan Instruktur Penggiat Jati Diri Bangsa (PIPJATBANG) ini dihadiri oleh jajaran Forkopimda Kabupaten Kediri, Kapolres jajaran Polda Jatim eks Polwil Kediri, serta para tokoh lintas agama dan budayawan setempat.
Ketua Panitia Pelaksana, R.M. Kushartono, menjelaskan bahwa Ruwat Agung ini bukan sekadar seremonial, melainkan upaya spiritual dan kultural untuk memulihkan mentalitas bangsa yang mulai memudar.
"Melalui acara ini, pihak panitia berharap dapat membangkitkan kembali jiwa Soekarno di dalam sanubari generasi muda demi menyongsong Indonesia Emas 2045 dan mengantarkan bangsa ini sebagai Imam Perdamaian Dunia," kata Kushartono.
Rangkaian prosesi adat, jelas Kushartono, digelar secara runut dan sarat makna, dimulai dari Doa Pangruwatan Bangsa yang dipimpin oleh tokoh lintas agama, Kirab Jati Diri dengan mengarak Tumpeng Keselamatan, hingga prosesi panglukatan atau penyucian patung Bung Karno.
Selain itu, dilakukan pula peresmian monumen papan nama perubahan Koesno menjadi Soekarno, penandatanganan prasasti, dan ditutup dengan pementasan teatrikal padat lakon 'Kembang Jagad'.
Hadir sebagai narasumber utama, Brigjen Pol. Langgeng Purnomo selaku Ketua Dewan Pengarah PIPJATBANG dan saat ini menjabat sebagai Karobinkar SSDM Polri.
Dalam pidatonya, Brigjen Pol Langgeng menyampaikan, ada benang merah yang kuat antara ajaran Tri Sakti Bung Karno dengan misi Asta Cita yang kini digaungkan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, di tengah tarik-menarik geopolitik internasional, kedaulatan politik hanya bisa dicapai jika Indonesia mampu melakukan gotong royong nasional untuk mewujudkan kemandirian ekonomi terlebih dahulu. Kemandirian ekonomi tersebut kini sedang diimplementasikan melalui misi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang berfokus pada swasembada pangan, energi, air, teknologi, dan hilirisasi.
Namun, Brigjen Langgeng juga mengingatkan bahwa prasyarat utama untuk menyukseskan program-program ekonomi pemerintah tersebut ada pada poin Tri Sakti yang ketiga, yaitu berkepribadian dalam kebudayaan. Ia menyoroti tantangan globalisasi dan kapitalisme saat ini yang menyuburkan penyakit sosial seperti keserakahan, iri, dan dengki—atau yang ia istilahkan sebagai 'pohon khabitsah'.
"Jika dibiarkan, penyakit sosial ini dapat meluluhlantakkan moral, hukum, budaya, hingga keamanan nasional. Solusinya adalah kembali ke jati diri bangsa Indonesia dengan membangun jiwa, membentengi diri dari budaya asing yang destruktif, dan memperkuat semangat gotong royong," katanya.
Ia optimistis, bahwa dengan kebudayaan yang berkepribadian dan ekonomi yang berdikari lewat Asta Cita, Indonesia akan siap melangkah menjadi mercusuar imam perdamaian dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....