Refleksi Hardiknas dari Rumah Masa Kecil Soekarno
- 02 Mei 2026 20:50 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Bertepatan dengan puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026, berbagai komunitas dan lembaga di Kediri Raya menggelar tasyakuran dan doa bersama untuk perdamaian dunia
- Kunci Indonesia jadi 'Imam Perdamaian Dunia' ada pada pengakuan 'Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa' seperti di alinea ketiga Pembukaan UUD 1945
RRI.CO.ID, Kediri- Bertepatan dengan puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026, berbagai komunitas dan lembaga di Kediri Raya menggelar tasyakuran dan doa bersama untuk perdamaian dunia.
Pada agenda yang digelar di Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kabupaten Kediri, Jumat malam, 1 Mei 2026, mengusung tema 'Pendidikan Jati Diri Bangsa Merajut Perdamaian Dunia'.
Kegiatan ini menjadi respons spiritual atas situasi global yang kian genting sekaligus upaya menghidupkan kembali pemikiran Bung Karno tentang peran Indonesia di kancah internasional.
Pemilihan lokasi di Ndalem Pojok Kediri bukan tanpa alasan. Situs ini menjadi saksi masa kecil dan pergolakan batin Sang Proklamator. Spirit kemanusiaan dan keadilan yang tumbuh di tempat ini kelak mengantarkan Soekarno jadi tokoh kunci perdamaian dunia.
"Spirit dari Ndalem Pojok inilah yang melahirkan gagasan besar seperti Politik Bebas Aktif dan Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. Ndalem Pojok adalah kawah candradimuka Bung Karno," ungkap Ketua Panitia R.M., W.T. Suhardono.
Menurut Suhardono, puncak pemikiran Soekarno tercermin dalam pidato 'To Build the World Anew' di Sidang Umum PBB, 30 September 1960. Saat itu, Soekarno menawarkan Pancasila sebagai jalan tengah bagi dunia yang terbelah Perang Dingin.
Doa bersama digelar di tengah bayang-bayang ancaman Perang Dunia III. Ketegangan Amerika Serikat dan China kini berpusat di Selat Malaka. AS dilaporkan mengincar kendali ruang udara di wilayah tersebut, padahal Selat Malaka adalah jalur nadi 80 persen pasokan minyak China dari Iran.
"Jika tidak waspada dan tidak punya kesadaran pendidikan menjaga perdamaian, kawasan kita bisa jadi medan tempur. Indonesia harus berani bersuara seperti saat KAA Bandung, menjadi penengah yang berwibawa," tegas Suhardono.
Acara ini juga membedah kekuatan doa dari sisi sains, merujuk riset HeartMath Institute. Dipaparkan bahwa medan elektromagnetik hati manusia 5.000 kali lebih kuat dibanding otak. Dibahas pula riset Barat tentang efektivitas doa yang mampu memengaruhi struktur otak lewat neuroplastisitas melalui konsentrasi jarak jauh.
"Lewat doa kolektif ini, kita memohon agar struktur otak para pemimpin dunia yang dipenuhi ambisi perang berubah menjadi keinginan damai. Inilah diplomasi spiritual dari Kediri untuk dunia," kata Ketua Bidang Pendidikan Pesantren Jati Diri Bangsa Indonesia Merajut Perdamaian Nusantara, Kushartono.
Pada kesempatan ini, Kushartono menyebutkan, kunci Indonesia jadi 'Imam Perdamaian Dunia' ada pada pengakuan 'Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa' seperti di alinea ketiga Pembukaan UUD 1945.
"Indonesia bangsa yang beriman. Kekuatan kita bukan pada senjata, tapi pada kedekatan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Ini kesadaran jati diri yang harus diwariskan dalam pendidikan kepada setiap guru dan murid," katanya.
Lebih lanjut, acara diawali lagu Indonesia Raya dan pembacaan Sumpah Jati Diri Bangsa. Hadir berbagai organisasi, antara lain DPC Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia Kediri, DPC PCTA Indonesia Jombang, Pesantren Jati Diri Bangsa Indonesia, DPD ORSHID Kediri, DPD Opshid FKYME Kediri, Jam'iyah Kausan Putri Hajarulloh Shiddiqiyyah, Ahlul Bait Indonesia Kediri, Pasak Kediri, Sangga Buana, Suara Alam 10, dan lainnya.
Kegiatan ditutup dengan santunan anak yatim dan selamatan, sebagai simbol bahwa pendidikan karakter dan kepedulian sosial adalah akar perdamaian abadi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....