Kisah Warga Kampung SIBA Gresik, Rayakan Iduladha 2026 tanpa Plastik

  • 27 Mei 2026 21:33 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • Suasana perayaan Iduladha di Kampung SIBA KLASIK, Sidokumpul, Kabupaten Gresik, terasa berbeda
  • Di tengah persoalan sampah plastik yang makin berat, langkah sederhana warga Kampung SIBA menunjukkan bahwa tradisi dan lingkungan bisa jalan beriringan

RRI.CO.ID, Kediri - Suasana perayaan Iduladha di Kampung SIBA KLASIK, Sidokumpul, Kabupaten Gresik, terasa berbeda.

Di gang-gang sempit RT 02/RW 05, warga keluar rumah bukan membawa kantong plastik, tapi ember, baskom, rantang, sampai kotak makan dari rumah.

Tidak ada tumpukan plastik tercecer seperti tahun-tahun sebelumnya. Semua sudah direncanakan jauh hari.

Ketua RT 02, Saifudin Efendi atau yang akrab disapa Ipung, mengaku ide ini lahir dari obrolan warga saat musyawarah kurban.

"Setiap tahun plastik menumpuk setelah pembagian daging. Tahun ini warga sepakat ganti dengan wadah guna ulang, supaya lingkungan tetap bersih," kata Saifudin Efendi (Ipung), Rabu 27 Mei 2026.

Konsep itu disebut Zero Waste Cities atau kurban minim sampah. Panitia sengaja tidak menyediakan kantong plastik. Penerima daging datang dengan wadah masing-masing yang sudah didata sebelumnya. Jadi prosesnya lebih tertata, cepat, dan tidak ada yang ketinggalan.

Ketua Takmir Langgar Maslakul Inayah, Ahmad Efendi, menyebut ini bentuk kesadaran baru warga.

"Kami ingin tradisi kurban tetap berjalan, tapi lingkungan juga terjaga. Warga jadi lebih disiplin karena membawa wadah sendiri dari rumah," ujarnya.

Ia mengatakan, hal yang membuat suasana makin hidup adalah gotong royongnya. Remaja musala membantu mengangkut limbah organik. Ibu-ibu membersihkan area pembagian daging. Karang taruna mengatur lalu lintas warga agar tidak terjadi antrean panjang.

Sisa daun, pakan ternak, dan limbah organik hasil penyembelihan tidak dibuang begitu saja. Semua dipisah dan dikumpulkan untuk diolah menjadi kompos. Peralatan yang dipakai pun langsung dicuci dan dipakai lagi.

Bagi seorang warga seperti Nur Aini, perubahan kecil ini terasa besar.

"Biasanya habis kurban banyak plastik tercecer. Sekarang lebih rapi karena warga sudah bawa tempat sendiri," katanya sambil membawa baskom berisi daging kurban pulang.

Di sisi lain, pihak panitia pun sudah merencanakan kelanjutannya. Setelah Iduladha, pengolahan limbah organik akan dikembangkan jadi pupuk kompos untuk tanaman di kampung.

"Kebiasaan kecil seperti bawa wadah sendiri ini dampaknya langsung terlihat. Kampung jadi bersih," kata Ipung.

Di tengah persoalan sampah plastik yang makin berat, langkah sederhana warga Kampung SIBA menunjukkan bahwa tradisi dan lingkungan bisa jalan beriringan. Iduladha tetap khidmat, gotong royong tetap hidup, dan lingkungan pun ikut merayakan hari raya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....