Mengubah Sampah Dapur, Oro-Oro Ombo Mulai Revolusi Hijau
- 30 Apr 2026 16:51 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Sebagian masyarakat tak akan bisa menyangka bila isi tempat sampah rumah bisa menentukan masa depan sebuah desa
- Dari dapur 50 rumah, Oro-Oro Ombo sedang menulis ulang caranya memperlakukan sampah
RRI.CO.ID, Batu - Sebagian masyarakat tak akan bisa menyangka bila isi tempat sampah rumah bisa menentukan masa depan sebuah desa. Suasana ini terlihat di ruang pertemuan Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu, berubah jadi 'laboratorium sampah'.
Pada Senin, 27 April 2026, pemerintah desa bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu, TPS3R Jalibar Berseri, dan ECOTON menggelar konsultasi publik. Saat itu mereka tampak membedah, hasil Analisis Karakteristik Sampah alias AKSA selama 8 hari dari 50 rumah warga.
Kegiatan ini jadi fondasi program Zero Waste Cities yang lagi dibangun di Oro-Oro Ombo. Targetnya, warga tidak cuma membuang, tapi memilah dan mengolah dari rumah.
Dalam keterangannya, Kamis, 30 April 2026, Tonis Afrianto, Manager Program Zero Waste ECOTON sekaligus lulusan Zero Waste Academy Asia-Pacific, menyebutkan, data AKSA yang dipaparkan cukup menohok. Dari 11–18 Februari 2026, tim menemukan 66 persen sampah warga adalah organik sisa sayur, buah, nasi basi. Ia menilai, AKSA itu sebuah fondasi. Jikalau organik paling banyak, maka kawasan wajib bangun rumah kompos, ecoenzym, POC. Jangan malah bikin insinerator.
Pada kesempatan ini, Tonis memberi lima resep membuat Oro-Oro Ombo naik kelas menjadi kawasan mandiri sampah. Misalnya, wajib pilah dari rumah. Lalu, masyarakat bisa angkut sampah dengan wujud terpilah, tidak dicampur.
Ketiga, meningkatkan konsep olah organik karena porsinya dominan. Keempat, bentuk tim penyuluh zero waste di tiap RT/RW, dan kelima, bikin Perdes larangan plastik sekali pakai.
"Tanpa aturan dan aksi, data AKSA cuma jadi arsip," kata Tonis.
Kepala DLH Kota Batu Dian Fachroni juga terlihat membawa konsep besar, 'Batu Greenation, singkatan dari Green Action for Sustainable City Transformation'. Yang mana, hal ini dilakukan dengan membalik paradigma secara total. "Kalau dulu, kumpul-angkut-buang, maka sekarang pilah-olah-sampah. Sampah harus desentralisasi, diolah di sumber, dan tiap kawasan wajib punya local heroes yang gerakin," kata Dian.
Ia menyebutkan, pada tahun 2025, Kota Batu sukses kurangi sampah 64,50 persen, atau jauh di atas target nasional 30 persen. Direktur Eksekutif ECOTON, Daru Setyorini juga menyampaikan, mikroplastik sudah masuk tubuh manusia, bahkan ibu hamil. Misalnya, plastik sekali pakai bukan cuma menumpuk di TPA, tapi juga meracuni diam-diam.
"Solusinya? Balik ke alam. Pakai daun pisang buat bungkus, biasakan sistem isi ulang buat hindari sachet, kita mau wariskan bumi bersih, bukan bom plastik ke anak cucu," kata Daru.
Adapun, aksi nyata langsung digelar hari itu, 78 peserta dari RT, RW, Kepala Dusun, dan kader lingkungan gak cuma duduk dengar. Ada pula penandatanganan komitmen bersama mulai desa, DLH, dan ECOTON bakal kawal bareng dari perencanaan sampai evaluasi.
Saat ini, 15 rumah tangga yang konsisten milah sampah dari sumber diganjar reward rantang guna ulang. Hal ini sederhana, tetapi maknanya dalam. Dari dapur 50 rumah, Oro-Oro Ombo sedang menulis ulang caranya memperlakukan sampah. Data jadi kompas, warga jadi penggerak, dan desa pelan-pelan naik kelas, dari penghasil sampah jadi pengelola sumber daya. Revolusi hijau ternyata dimulai dari tempat paling sepele, tong sampah di pojok dapur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....