Peringati Hari Bumi, TPS3R Oro-Oro Ombo Sulap Sampah Jadi Pupuk Organik
- 23 Apr 2026 15:01 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Peringati Hari Bumi, TPS3R Oro-Oro Ombo Sulap Sampah Jadi Pupuk Organik
- Hari Bumi harus jadi pemantik perubahan pola tanam yang lebih ramah lingkungan, dan Pupuk Organik Cair (POC) diyakini bagus untuk pertumbuhan tanaman
RRI.CO.ID, Kediri - Peringatan Hari Bumi tanggal 22 April menjadi momen refleksi global soal kondisi planet yang makin kritis karena sampah. Untuk itu, TPS3R Jalibar Berseri Desa Oro-Oro Ombo menggelar sosialisasi 'Transformasi Sampah Organik Menjadi Nutrisi Pangan Organik' bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu dan ECOTON, di Gedung TPS3R Jalibar Berseri dan dibuka langsung oleh Kepala Desa Oro-Oro Ombo, Wiweko bersama perwakilan DLH Kota Batu, pada Rabu, 22 April 2026.
Dalam sambutannya, Kades Oro-oro Ombo, Wiweko menyebutkan, saat ini petani di desanya mulai melirik pertanian organik. POC ini sudah diberikan kepada petani, dan bagus untuk pertumbuhan tanaman. "Harapannya bisa bermanfaat luas," katanya.
Bagi Wiweko, Hari Bumi harus jadi pemantik perubahan pola tanam yang lebih ramah lingkungan. Adapun pada kesempatan ini hadir 30 peserta mulai dari GAPOKTAN Oro-Oro Ombo, Dinas Pertanian, Kader PKK, hingga praktisi lingkungan, dan seremoni ditandai penyerahan simbolis Pupuk Organik Cair (POC) hasil rumah kompos serta penanaman pohon turi.
"Hari Bumi harus jadi pemantik perubahan pola tanam yang lebih ramah lingkungan," katanya.
Di lokasi sama, Ketua TPS3R Jalibar Berseri, Titik Setyowati, menegaskan pentingnya warga melek kelola sampah. "Saya tiap hari menanam sayur pakai kompos dan pupuk cair dari sampah yang kita pilah sendiri. Acara ini buktiin kalau organik itu bermanfaat banget buat hidup dan bumi, yang mana sampah yang dulu masalah, kini jadi solusi pangan," kata Titik.
Dari sisi pemerintah, Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan dan Limbah B3 DLH Kota Batu, Endang Ari Setyoningsih, menilai POC adalah inovasi yang pas untuk Kota Batu. "Selama ini sampah organik di TPS3R cuma jadi kompos. Padahal lindinya bisa jadi POC. Kota Batu ini kota pertanian, kenapa tidak dimanfaatkan buat gantiin pupuk kimia," katanya.
Pada sesi materi juga tampak diisi dua narasumber. Masing-masing Heru, praktisi lingkungan asal Kota Batu, ia mengatakan dahsyatnya pertumbuhan tanaman yang dirawat dengan POC sejak awal. Ia bahkan membuka kelas belajar gratis untuk warga.
Narasumber kedua, Tonis Afrianto dari ECOTON, mendorong zero waste skala kota lewat pemilahan sampah dari rumah, pengurangan plastik sekali pakai, investasi teknologi olah sampah organik, dan promosi refill system untuk menekan sampah sachet. Hadir pula peserta dari kalangan petani, bernama Peteman. Ia mengaku menjadi saksi hidup manfaat POC.
"Pupuk organik bisa jadi alternatif pupuk kimia yang mahal. POC ini meringankan biaya petani, jadi mari lewat forum ini kita bisa getok tular mengajak petani lain pakai," katanya.
Peteman mengemukakan, bertani organik bukan cuma soal lingkungan, tapi juga soal kantong, sehingga konsep acaranya juga zero waste. Semua sajian prasmanan disuguhkan tanpa plastik sekali pakai.
"Piring dan gelas guna ulang dipakai, dan sisa sampah organik langsung diolah di rumah kompos TPS3R. Tak ada yang terbuang," katanya.
Pada agenda ini, peringatan Hari Bumi semakin meriah dengan fashion show ibu-ibu pekerja TPS3R dan lomba kreasi daur ulang kader lingkungan yang melahirkan tiga karya reuse terbaik sebagai juara 1, 2, dan 3.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....