Stigma Disabilitas Hambat Perkembangan Pendidikan Inklusif
- 26 Apr 2026 08:30 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Stigma penyandang disabilitas
- Perkembangan pendidikan inklusif
- Kelompk Kerja Guru (KKG)
- Guru Pendamping Khusus (GPK)
RRI.CO.ID, Kediri – Stigma terhadap penyandang disabilitas merupakan salah satu hambatan terbesar dalam mewujudkan sistem pendidikan inklusif yang efektif. Selain muncul dari lingkungan eksternal sekolah dan masyarakat, stigma juga datang dari sisi internal penyandang disabilitas sendiri.
Melalui Dialog Interaktif ‘Ruang Publik’, Sabtu, 25 April 2026, Erma Puspita Cahya Prihatiningrum, Bidang Penelitian dan Pengembangan Kelompok Kerja Guru (KKG) Guru Pendamping Khusus (GPK) Kabupaten Kediri, Jawa Timur mengatakan bahwa sekolah inklusif diharapkan mampu menghilangkan stigma disabilitas, menciptakan lingkungan yang mendukung, dan menghadirkan atmosfir dimana empati dan menghargai perbedaan bertumbuh. “Perasaan minder dan tidak setara dengan teman sebaya seringkali dimiliki oleh anak berkebutuhan khusus,” kata Erma, Sabtu siang.
Menurutnya, keterasingan membuat siswa dengan disabilitas merasa enggan untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelas, berinteraksi sosial, dan mengembangkan diri, hingga pada akhirnya menghambat sisi akademis dan emosional mereka. Di pertengahan segmen Program ‘Ruang Publik’ dengan tema ‘Ruang Disabilitas dan Inklusi’, Teddy Indra Kusuma, GPK Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri turut menyampaikan bahwa GPK memiliki peran krusial sebagai wadah kolaborasi untuk menjamin hak pendidikan setiap anak berkebutuhan khusus tanpa memandang keterbatasan mereka.
“Kehadiran GPK tidak hanya memastikan bahwa sekolah inklusif telah menerima siswa berkebutuhan khusus secara administratif saja, melainkan juga bertanggungjawab secara substansial dalam proses pembelajaran,” ujar Teddy.
Dikatakannya, GPK memiliki peran dalam melakukan identifikasi siswa hingga melakukan asesmen mendalam terhadap kebutuhan siswa. Selain itu, GPK turut berkontribusi dalam membantu guru kelas dalam memodifikasi materi ajar, strategi penyampaian, melakukan adaptasi kurikulum, hingga instrumen evaluasi agar relevan dan dapat diakses oleh siswa berkebutuhan khusus.
Selain itu, GPK turut berperan aktif sebagai mediator antara pihak sekolah dengan orang tua siswa serta melibatkan tenaga ahli lain seperti terapis atau psikolog. “Setiap anak lahir dengan potensi uniknya masing-masing. Tuhan tidak pernah menciptakan makhluk manusia yang gagal. Sekolah inklusif adalah tempat yang tepat untuk tumbuh, belajar, bersosialisasi, dan berkembang di lingkungan yang supportif tanpa diskriminasi,” ucap Erma melalui closing statementnya.
Ia mengajak masyarakat membangun masa depan dengan menyekolahkan anak di sekolah inklusif terdekat. Sementara itu, Teddy turut meyakinkan masyarakat bahwa lingkungan inklusif dapat mengubah kepercayaan diri seorang anak dengan kebutuhan khusus.
“Stevie Wonder, Putri Ariani, mereka dua figur yang membuktikan bahwa di balik keterbatasan, tersimpan potensi hebat melebihi orang lain yang bukan disabilitas. Berbeda itu biasa, belajar bersama di sekolah inklusif itu luar biasa,” katanya mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....