Ustaz Mansur: Bedah Beratnya Perjalanan Pasca-Kiamat

  • 15 Apr 2026 07:51 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Pengasuh Majlis Ta’lim Nur Arofah Kota Kediri, Ustaz Mansur, memberikan pemaparan mendalam mengenai fase kehidupan setelah dunia dalam kajian Mutiara Pagi RRI Kediri, Rabu, 15 April 2026. Menggunakan latar belakang keilmuan tekniknya, Ustaz Mansur menjelaskan secara logis mengapa waktu di akhirat terasa jauh lebih lama dibandingkan di dunia.

Menurutnya, satu hari di akhirat yang setara dengan seribu tahun di bumi dapat dipahami melalui perbandingan rotasi planet. “Pasca hancurnya alam semesta, peleburan material langit dan bumi akan membentuk planet Padang Mahsyar yang ukurannya berkali-kali lipat dari bumi, sehingga secara otomatis waktu rotasinya menjadi sangat lambat dan panjang,” tuturnya.

Selain durasi waktu, Ustaz Mansur juga menyoroti beratnya aktivitas di akhirat melalui analogi gaya gravitasi. Ia membandingkan kondisi bumi dengan planet raksasa seperti Jupiter; jika gravitasi bumi memungkinkan manusia beraktivitas dengan mudah, maka di akhirat nanti kondisi fisik dan lingkungan akan jauh lebih menekan. Perjalanan di Padang Mahsyar digambarkan sebagai fase yang sangat berat, tandus, tanpa perlindungan, dan matahari terasa sangat dekat.

“Kondisi ini membuat penderitaan bagi mereka yang tidak beriman menjadi berlipat ganda dibandingkan rasa sakit yang pernah dirasakan selama hidup di dunia. Dalam fase yang melelahkan tersebut, seluruh umat manusia akan menempuh perjalanan panjang untuk mencari perlindungan atau syafaat,” ucapnya.

Ustaz Mansur menjelaskan bahwa manusia akan berkeliling mencari pertolongan dari para nabi Ulul Azmi hingga bermuara pada Rasulullah SAW dan keputusan mutlak Allah SWT. Fase pencarian syafaat ini menjadi titik krusial bagi setiap individu. Tanpa adanya bantuan, perjalanan dari Yaumul Mahsyar hingga Yaumul Mizan (penimbangan amal) akan terasa mustahil untuk dilalui oleh manusia biasa karena tantangan alamiahnya yang begitu ekstrem.

Ustaz Mansur menekankan bahwa amal ibadah manusia selama di dunia sebenarnya tidak akan pernah cukup untuk ‘membayar’ keselamatan di akhirat. Namun, ibadah seperti membaca Al-Qur'an, berpuasa, dan memperbanyak selawat merupakan wasilah untuk mengetuk rahmat Allah dan mendapatkan syafaat Rasulullah.

"Kita beribadah bukan semata mengandalkan jumlah amal kita, tapi untuk mengharapkan rahmat Allah. Sebab, hanya dengan rahmat-Nya dan syafaat Nabi-lah perjalanan panjang yang berat itu bisa menjadi ringan dan cepat," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....