ZWA Soroti Kondisi Darurat Sampah di Indonesia
- 30 Jan 2026 13:56 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Pada hari kedua pelatihan Zero Waste Academy (ZWA) 2026 yang digelar ECOTON Foundation di Kota Kediri, menyoroti permasalahan sampah di Indonesia. "Krisis sampah yang kian memburuk di berbagai daerah kembali menjadi sorotan dalam hari kedua Zero Waste Academy (ZWA) 2026 yang kami adakan," kata Direktur ECOTON, Daru Setyorini, di Hotel Lotus, Kota Kediri, dalam keterangannya, Jumat, 30 Januari 2026.
Ia menjelaskan, pada agenda yang berlangsung Kamis, 29 Januari 2026 tampak diikuti perwakilan dari 12 kabupaten dan kota di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, Jawa Timur. "Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya di hilir melalui proyek-proyek besar bernilai miliaran hingga triliunan rupiah," katanya.
Akan tetapi, ungkapnya, pembenahan tata kelola sampah harus dimulai dari hulu, yakni dari perubahan pola produksi, konsumsi, dan penanganan sampah di tingkat sumber. "Kondisi darurat sampah terjadi hampir di seluruh Indonesia. Jika hanya mengandalkan teknologi di hilir, biayanya akan sangat besar. Padahal, pengendalian timbulan sampah, terutama sampah organik maka bisa dilakukan dari rumah tangga," kata Daru.
Ia menambahkan, pengelolaan sampah sejatinya juga menyangkut nilai etika dan moral. Dalam berbagai ajaran agama, termasuk Islam, pemborosan dan perusakan lingkungan merupakan hal yang dilarang.
Dalam pelatihan ini, imbuhnya, ECOTON menggandeng Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), sebuah jaringan yang terdiri atas sembilan organisasi nonpemerintah (NGO) nasional. Kolaborasi ini bertujuan memperkuat tata kelola pengelolaan sampah berbasis prinsip reduce, reduce, reduce, kemudian reuse, baru recycle, serta mendorong tanggung jawab produsen dalam rantai produksi dan konsumsi.
"Kami menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Gresik yang dinilai telah memiliki kebijakan dan forum koordinasi pemangku kepentingan pengelolaan sampah, sehingga komunikasi lintas sektor dapat berjalan lebih efektif. Selain itu, Pemerintah Kota Kediri turut memberikan sambutan dan dukungan terhadap pelaksanaan ZWA 2026," katanya.
Di tempat sama, Asisten II Sekretariat Daerah Kota Kediri, Heri Purnomo, menyatakan, isu pengelolaan sampah memang menguras energi banyak pihak, termasuk di Kota Kediri sendiri. "Masalah sampah selalu berulang dari tahun ke tahun. Pertanyaannya, seperti apa pengelolaan sampah yang ideal dan bisa diterapkan sesuai karakter daerah," katanya.
Heri melanjutkan, tantangan terbesar bukan semata pada teknologi, melainkan pada pola pikir masyarakat. Sebab, otak masyarakat saat ini sering dijejali hitung-hitungan untung rugi ala kapitalisme.
"Padahal, peran terbesar ada pada kesadaran bersama, termasuk aparatur dan pegawai pemerintah," kata Heri.
Sebelumnya, peserta mengikuti pembelajaran lapangan di TPS3R Wringinanom, Kabupaten Gresik, untuk melihat praktik pengelolaan sampah berbasis sumber di tingkat desa. ZWA 2026 menjadi pelatihan pertama yang digelar ECOTON dengan melibatkan pemerintah daerah, pengelola TPS3R, serta pemangku kepentingan desa dari 12 wilayah di Jawa Timur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....