Gelar ZWA, ECOTON Edukasi Indonesia Bebas Sampah
- 29 Jan 2026 09:58 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID. Kediri - Untuk membantu pemerintah menuju Indonesia bebas sampah tahun 2030, ECOTON Foundation rmenggelar Zero Waste Academy (ZWA). Dalam keterangannya, Kamis, 29 Januari 2026, Direktur ECOTON Foundation, Dr. Daru Setyo Rini, menyatakan, ZWA merupakan, sebuah ruang pembelajaran intensif pengelolaan sampah berbasis sumber dan pengurangan emisi metana.
"Pada hari pertama, Rabu, 28 Januari 2026, kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 50 peserta yang berasal dari lebih dari 12 kota/kabupaten di pulau jawa, melibatkan unsur BAPPEDA, Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah desa dan kelurahan, akademisi, serta organisasi lingkungan," kata Direktur ECOTON Foundation, Dr. Daru Setyo Rini, saat membuka ZWA hari pertama didampingi bersama Camat Wringinanom Gresik, Arditra Risdiansah.
Dalam sambutannya, Daru menekankan bahwa krisis sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan hilir. "Zero Waste Academy dirancang sebagai ruang kolaborasi lintas sektor. Kami ingin mempertemukan pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pengelola TPS 3R agar belajar langsung dari praktik nyata," kata Daru.
Ia berharap, saat peserta pulang, mereka tidak hanya membawa pengetahuan, tetapi juga rencana aksi konkret yang bisa diintegrasikan ke dalam kebijakan daerah. "Tadi usai pembukaan, peserta diajak mengunjungi rumah-rumah warga di Desa Wringinanom yang telah menerapkan pemilahan sampah organik dan anorganik langsung dari sumber," katanya.
Kunjungan ini, lanjutnya, menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari rumah dengan cara yang sederhana dan menguntungkan. Titin, salah satu nasabah TPST 3R Wringinanom, mengatakan, manfaat nyata dari kebiasaan memilah sampah.
"Memilah sampah itu ternyata sangat mudah dan justru menguntungkan. Selain itu dengan memilah kami mendapatkan diskon untuk membeli produk refillin seperti sabun tanpa plastik sekali pakai, dan mengurangi sampah plastik kemasan sekali pakai terutama sachet," kata Titin.
Setelah kunjungan rumah warga, peserta diarahkan kembali ke TPST 3R Wringinanom untuk mempelajari secara langsung mekanisme pengelolaan sampah. Peserta belajar tentang pemilahan sampah spesifik, alur pengolahan, hingga pencatatan administrasi.
"Peserta juga diajak melihat teknologi pengomposan sederhana menggunakan lubang tanah, yang dinilai murah, mudah diterapkan, dan efektif untuk mengolah sampah organik di tingkat desa maupun kawasan," katanya.
Sementara, Eni, perwakilan DLH Kota Batu, menyampaikan apresiasinya terhadap metode tersebut. "Metode pengomposan sederhana ini sangat relevan untuk diterapkan di TPS 3R desa maupun kawasan. Biayanya rendah, teknologinya mudah dipahami masyarakat, tetapi dampaknya besar," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....