Gema Sajadah Perkuat Kolaborasi Pengelolaan Sampah di Jombang

  • 28 Jan 2026 17:38 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang — Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Jombang menegaskan komitmennya memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan sampah berbasis edukasi dan nilai sosial melalui program "Gerakan Madrasah, Sampah Jadi Sedekah" (Gema Sajadah).

Penguatan sinergi tersebut dibahas dalam rapat koordinasi dan evaluasi yang digelar di Aula Al-Muhajirin Kemenag Jombang, Rabu, 28 Januari 2026.

Rapat koordinasi ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jombang, Bank Sampah Induk Jombang (BSIJ), penggiat Adiwiyata, kepala KUA, pimpinan pondok pesantren, kepala madrasah, hingga kelompok kerja pengawas madrasah.

Agen Perubahan Ekoteologi Kemenag Jombang, Nur Khojin, menyampaikan bahwa rapat koordinasi menjadi momentum konsolidasi seluruh pihak yang selama ini terlibat dalam gerakan tersebut. Menurutnya, capaian Gema Sajadah tidak terlepas dari kerja kolektif para stakeholder.

“Kami mengundang seluruh unsur yang terlibat untuk memastikan gerakan ini terus berjalan. Prestasi Gema Sajadah sebagai Inovasi Berdampak Terbaik tingkat Kanwil Jawa Timur merupakan hasil kolaborasi, bukan kerja satu pihak,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kemenag Kabupaten Jombang, Muhajir, menjelaskan bahwa Gema Sajadah kini dimaknai lebih luas. Jika sebelumnya dikenal sebagai Gerakan Madrasah Sampah Jadi Sedekah, kini secara resmi dikembangkan menjadi Gerakan Bersama Sampah Jadi Sedekah.

“Mulai saat ini, Gema Sajadah menjadi gerakan bersama keluarga besar Kemenag Jombang. Pelaksanaannya akan diperkuat melalui keterlibatan KUA, madrasah, pesantren, hingga masyarakat,” kata Muhajir.

Ia menegaskan, penguatan sinergi lintas sektor menjadi kunci utama keberlanjutan program, khususnya dengan DLH, Bank Sampah Induk Jombang, serta komunitas Adiwiyata yang selama ini aktif dalam pengelolaan lingkungan. Menurut Muhajir, pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter. 

Nilai disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial dapat ditanamkan melalui praktik sederhana dalam memperlakukan sampah. “Sampah yang awalnya menjadi persoalan, kita dorong agar memberi manfaat. Ini bentuk dakwah melalui tindakan nyata, karena anak-anak akan belajar dari contoh yang mereka lihat,” ucapnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....