Petani Muda Kunci Swasembada Pangan Nasional
- 20 Okt 2025 14:33 WIB
- Kediri
KBRN, Kediri: Keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan bergantung pada regenerasi petani muda yang mampu mengelola pertanian secara modern dan berkelanjutan. Di tengah berkurangnya minat generasi muda untuk bertani, peran petani milenial menjadi kunci menjaga ketersediaan pangan nasional di masa depan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, lebih dari 80 persen petani di Indonesia saat ini berusia di atas 45 tahun, sementara petani muda di bawah 35 tahun hanya sekitar 12 persen dari total petani. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan sektor pertanian, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Direktur Pasar Komoditas Nasional (Paskomnas) Indonesia, Ir. Soekam Parwadi, menilai bahwa minimnya minat anak muda terhadap sektor pertanian menjadi ancaman serius bagi kemandirian pangan bangsa. Menurutnya, pemerintah terus berupaya menumbuhkan minat generasi muda untuk kembali ke sawah melalui program pelatihan, akses modal, dan pengembangan teknologi pertanian.
“Sekarang ini, di desa-desa anak muda jarang sekali yang mau menekuni pertanian. Padahal, pertanian masa depan adalah pertanian modern miliknya anak-anak muda,” ujar Soekam saat di wawancarai RRI, Senin (20/10/2025).
Ia menjelaskan, persepsi negatif tentang pertanian sebagai pekerjaan kotor, panas, dan kurang menjanjikan harus segera diubah. Sektor pertanian kini tidak lagi identik dengan mencangkul dan lumpur, melainkan telah bertransformasi menjadi bidang usaha yang memanfaatkan teknologi modern.
“Selama ini pertanian dianggap tidak menarik, padahal peluangnya besar. Indonesia punya potensi memproduksi kebutuhan pangan sendiri tanpa tergantung impor. Tapi itu tidak bisa diserahkan kepada petani yang sudah tua. Ayo anak-anak muda, sekarang saatnya kita ambil peran,” tegas Soekam.
Ia juga menambahkan bahwa pertanian modern kini semakin terbuka dengan mekanisasi, teknologi digital, dan pasar agribisnis yang luas. Dengan dukungan kebijakan dan semangat generasi muda, sektor pertanian dapat menjadi pilar ekonomi nasional yang tangguh, “Kalau sektor pertanian ini kuat, negara juga akan kuat. Kita siap mendampingi anak muda untuk membesarkan usaha pertanian agar bisa bersaing di era modern,” ujarnya.
Sementara itu, Rendi (29), seorang petani milenial asal Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, menjadi contoh nyata generasi muda yang berani memilih jalur pertanian sebagai profesi. Ia memanfaatkan teknologi drone sprayer dan sistem irigasi otomatis untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan lahannya yang seluas dua hektare.
“Awalnya saya juga ragu bertani. Tapi setelah melihat potensi pasarnya besar dan teknologi pertanian semakin maju, saya yakin ini bisa jadi masa depan yang menjanjikan,” kata Rendi saat ditemui di lahan garapannya.
Menurut Rendi, tantangan utama petani muda terletak pada akses lahan dan modal. Namun, ia menilai dukungan pemerintah melalui program petani milenial dan bantuan alat pertanian mulai memberikan hasil positif, “Sekarang banyak pelatihan dan bantuan dari dinas pertanian. Kuncinya mau belajar dan adaptif. Kalau kita bisa memanfaatkan teknologi dan peluang pasar, bertani bukan lagi pekerjaan tradisional, tapi bisnis masa depan,” ujarnya.
Rendi berharap semakin banyak generasi muda yang terjun ke dunia pertanian agar kemandirian pangan nasional bisa benar-benar terwujud, “Kalau bukan kita yang muda, siapa lagi yang akan meneruskan perjuangan petani tua. Bertani bukan hanya soal mencari nafkah, tapi menjaga masa depan bangsa,” katanya mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....