Cegah Penyakit Jantung, Masyarakat Diimbau Rutin Cek Kesehatan

  • 17 Sep 2026 06:25 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • Untuk mencegah penyakit jantung sejak dini, masyarakat diimbau semakin memiliki kesadaran terhadap kesehatan
  • Pada tahun 2025, penanganan penyakit jantung nasional mencatat lebih dari 29,7 juta kasus

RRI.CO.ID, Kediri - Untuk mencegah penyakit jantung sejak dini, masyarakat diimbau semakin memiliki kesadaran terhadap kesehatan. Khususnya dengan mengendalikan berbagai faktor risiko sejak dini.

Pengendalian tekanan darah, gula darah, serta pemeriksaan kesehatan berkala di tingkat fasilitas primer menjadi kunci utama pencegahan penyakit kardiovaskular.

Langkah preventif ini menjadi perhatian mendesak mengingat kasus penyakit jantung di Indonesia masih mencatatkan angka utilisasi dan pembiayaan yang cukup tinggi.

"Pada tahun 2025 saja, penanganan penyakit jantung nasional mencatat lebih dari 29,7 juta kasus," kata Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, dalam Media Workshop yang dilakukan serentak secara daring, Rabu, 16 September 2026.

Pujo mengatakan, pentingnya perubahan pola pikir masyarakat serta penguatan layanan di hilir maupun hulu. Menurutnya, pemantauan kesehatan tidak boleh menunggu hingga muncul keluhan berat atau komplikasi parah.

"Tantangan peningkatan biaya pelayanan kesehatan terlihat dari tingginya pembiayaan di rumah sakit. Dari data BPJS Kesehatan, total biaya pelayanan kesehatan Program JKN pada 2025 mencapai Rp191,3 triliun, dengan sekitar 87,1 persen realisasi pembiayaan berasal dari pelayanan di rumah sakit," ujar Pujo.

Pujo menjelaskan, sebagian besar kasus serangan jantung berawal dari faktor risiko di tingkat hulu yang kurang terkontrol dengan baik. Oleh karena itu, penguatan peran Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti puskesmas dan klinik pratama menjadi fondasi vital.

Dalam skema pencegahan ini, masyarakat diharapkan memanfaatkan layanan pencegahan secara optimal. Upaya ini mencakup pemeriksaan berkala untuk kontrol tekanan darah, kadar gula darah, kepatuhan minum obat bagi penderita hipertensi/diabetes, hingga pemantauan berkala nilai HbA1C.

"Di rumah sakit, BPJS Kesehatan juga mendorong pelayanan yang berorientasi pada mutu dan outcome. Sejumlah pendekatan yang dikembangkan antara lain pengambilan keputusan terpadu melalui Heart Team, tata laksana klinis sesuai pedoman, pemeriksaan Fractional Flow Reserve (FFR), dan staged revascularization," tambah Pujo.

Pendekatan baru ini, imbuhnya, berfokus pada hasil kesehatan (outcome) peserta dan efisiensi biaya, bukan sekadar jumlah layanan yang diberikan. Melalui paradigma ini, penanganan medis diarahkan agar pasien tidak hanya mendapatkan tindakan cepat dan tepat, tetapi juga memiliki kualitas pemulihan yang aman dan berkelanjutan.

"Dukungan terhadap peningkatan standar layanan medis dan kemudahan akses juga disampaikan oleh perwakilan jajaran TNI," katanya.

Pamen Ahli Bidang Iptek dan LH Kodam III/Siliwangi, Tri Adrijanto Santoso, menilai kemudahan akses dan edukasi publik memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga kesehatan warga.

"Kodam III Siliwangi mendukung program pemerintah dalam upaya promotif dan preventif, termasuk melalui edukasi kepada masyarakat. Dengan kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat menjadi kontribusi positif dalam peningkatan kualitas kesehatan," kata Tri.

Dari sisi penyelenggara layanan kesehatan di lapangan, kesiapan fasilitas dan percepatan respons medis terus diperkuat. Kepala Rumah Sakit Tingkat II Dustira, Muchlas Fahmi, mengungkapkan pelayanan jantung komprehensif terus dioptimalkan agar berorientasi penuh pada keselamatan dan pemulihan pasien.

Sementara itu, Koordinator BPJS Watch, Timbul Siregar, mengingatkan bahwa penyakit jantung sangat berkaitan erat dengan gaya hidup sehari-hari.

"Kami mendorong masyarakat untuk secara konsisten menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai langkah perlindungan diri yang paling dasar," kata Timbul.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....