Dokter Anak Tegaskan Panduan Penanganan Gizi saat Bencana

  • 20 Agt 2026 17:37 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Penanganan nutrisi bagi bayi dan balita di lokasi pengungsian bencana memerlukan perhatian serta penanganan khusus agar tidak memicu masalah kesehatan baru. Dokter spesialis anak sekaligus edukator kesehatan, dr. Mas Nugroho Ardi Santoso, M.Kes, Sp.A, mengingatkan seluruh pihak dan relawan agar memahami kebijakan penanganan gizi darurat demi melindungi kelompok rentan tersebut.

dr. Ardi menekankan bahwa Air Susu Ibu (ASI) harus tetap menjadi prioritas utama bagi bayi usia 0 hingga 6 bulan di situasi krisis. Dukungan penuh perlu diberikan kepada ibu menyusui melalui penyediaan ruang laktasi darurat, pendampingan konselor, pemenuhan hidrasi dan nutrisi ibu, serta menciptakan rasa aman untuk mempertahankan produksi ASI.

Terkait pemberian susu formula, dr. Ardi memberikan peringatan keras agar bantuan tersebut tidak dibagikan secara bebas atau massal di area pengungsian. Pembagian susu formula tanpa pengawasan ketat dan ketersediaan air bersih yang memadai justru berisiko tinggi memicu penularan wabah penyakit berbahaya pada bayi.

Ia mengatakan fokus utama penanganan gizi saat krisis adalah mencegah diare, yang merupakan sumber kematian tertinggi bagi bayi di tempat pengungsian. Donasi dan pemberian susu formula secara massal sangat berisiko tinggi memicu kasus diare hingga kematian jika sarana air bersih tidak terjamin.

Dalam postingan tersebut dr. Ardi Santoso juag menegaskan bahwa pemberian susu formula hanya diperbolehkan atas indikasi medis tertentu, seperti ibu meninggal dunia atau kondisi medis yang tidak memungkinkan untuk menyusui. Distribusinya pun wajib melalui rekomendasi tenaga kesehatan, disertai pencatatan, edukasi cara penyajian yang steril, serta penyediaan air bersih.

Sementara untuk anak di atas usia 6 bulan, pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) harus memenuhi standar keamanan pangan darurat, bersih, bergizi, dan sesuai usia. Penggunaan MPASI instan fortifikasi sangat diperbolehkan di daerah bencana karena telah memenuhi standar gizi dan kebersihan secara praktis.

Sebaliknya, pembuatan MPASI rumahan di posko pengungsian hanya disarankan apabila sarana air dan sanitasi lingkungan sekitar benar-benar memadai. Relawan dan orang tua juga dilarang keras memberikan makanan dewasa seperti makanan pedas, asin, tinggi gula, maupun mie instan kepada bayi.

"Di tengah bencana, bantuan yang kita anggap paling dibutuhkan belum tentu tepat, bahkan bisa menimbulkan risiko baru, terutama untuk bayi dan anak. Sebelum berdonasi ada aturan yang wajib kita pahami, Karena dalam situasi darurat, cara kita membantu sama pentingnya dengan niat kita membantu," tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....