Guru Besar UI Ingatkan Bahaya Fenomena Brainrot

  • 21 Jun 2026 14:41 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Fenomena brainrot atau yang secara harfiah berarti ‘pembusukan otak’ semakin menjadi perhatian di era digital. Meski bukan termasuk penyakit resmi dalam dunia medis, fenomena ini dinilai nyata dan dapat memengaruhi kemampuan berpikir seseorang akibat paparan konten hiburan yang cepat, dangkal, dan berulang.

Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, Prof. Agustino Zulys, menjelaskan bahwa brainrot kini bahkan telah dianggap sebagai salah satu genre hiburan di media sosial. Kontennya umumnya berisi informasi singkat, absurd, acak, dan sering kali tidak masuk akal.

“Secara istilah, brainrot berarti pembusukan otak. Ini memang bukan penyakit resmi, tetapi merupakan fenomena nyata yang dalam penelitian ilmiah dapat menyebabkan penurunan kemampuan berpikir karena terlalu banyak mengonsumsi konten receh, cepat, dan dangkal,” ujar Prof. Zulys dipostingan media sosialnya (@prof.zulys).

Menurutnya, daya tarik utama konten semacam itu berasal dari cara kerja dopamin, yaitu zat kimia di otak yang berperan dalam sistem penghargaan (reward system). Setiap kali seseorang menemukan video lucu atau konten baru saat menggulir media sosial, otak memberikan sensasi penghargaan kecil yang memicu rasa senang.

“Konten brainrot sangat cepat dan penuh kejutan sehingga memicu lonjakan dopamin terus-menerus. Akibatnya, otak memberi sinyal bahwa untuk merasa senang seseorang harus terus melakukan scrolling, dan dari situlah kecanduan digital mulai terbentuk,” katanya.

Agustino menjelaskan bahwa otak manusia sejatinya dirancang untuk fokus dan berpikir mendalam. Namun, paparan informasi yang terlalu banyak dan cepat justru dapat menurunkan rentang perhatian, melemahkan daya ingat, membuat seseorang sulit mengambil keputusan, serta menjadi lebih reaktif dan kurang reflektif dalam menyikapi berbagai hal.

Dampak tersebut dinilai lebih berbahaya bagi anak-anak dan remaja yang otaknya masih berkembang. “Kalau hiburan membuat kita tertawa itu sehat, tetapi jika hiburan membuat kita berhenti berpikir, itu berbahaya. Anak-anak bukan lemah, melainkan menghadapi sistem dan algoritma yang memang dirancang untuk membuat mereka terus menonton dan mencari kesenangan instan,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa ketergantungan pada konten brainrot dapat mengganggu proses belajar, memicu masalah emosi, meningkatkan risiko depresi, hingga berdampak pada perkembangan kecerdasan dalam jangka panjang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....