Stok Darah PMI Kediri 477 Kantong
- 02 Feb 2026 06:26 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Stok (ketersediaan) darah di Markas PMI Kabupaten Kediri aman dengan jumlah sebanyak 477 kantong darah. Hal tersebut berdasarkan dari rilis dari Unit Tranfusi Darah (UTD) PMI Kabupaten Kediri, Minggu, 1 Februari 2026.
Sesuai data stok darah di PMI Kabupaten Kediri untuk golongan A sebanyak 100 kantong, kemudian untuk darah golongan B tersedia sebanyak 128 kantong. Sedangkan golongan darah O terdapat 200 kantong dan golongan darah AB tersedia sebanyak 49 kantong.
| Baca juga: Stok Darah PMI Kabupaten Kediri 353 Kantong |
Staf Unit Donor Darah PMI Kabupaten Kediri, Yongki Frida Efendi, menjelaskan Palang Merah Indonesia memiliki prosedur yang sangat ketat untuk darah yang tidak layak digunakan. “Darah yang dianggap tidak layak (hasil reaktif IMLTD, darah rusak/kedaluwarsa, atau volume kurang) tidak akan pernah digunakan untuk pasien dan wajib dimusnahkan,” ujarnya.
Tindakan PMI untuk darah yang tidak layak digunakan yaitu pemisahan dan karantina untuk darah yang hasil uji saringnya reaktif (terinfeksi HIV, Hepatitis B/C, Sifilis) atau tidak memenuhi standar fisik. “Segera dipisahkan dan dikarantina atau disimpan di tempat khusus, agar tidak tercampur dengan darah layak pakai,” ucapnya.
Selanjutnya dilakukan pencatatan darah rusak dengan dilakukan dokumentasi/pencatatan mendetail mengenai kantong darah yang akan dimusnahkan. “Darah yang tidak layak digunakan dimusnahkan dengan cara dibakar menggunakan mesin insinerator, bekerja sama dengan pihak ketiga pengelola limbah medis baik rumah sakit atau jasa pembuangan limbah medis,” katanya.
Kantong darah diperlakukan sebagai limbah medis infeksius, sehingga prosedur pemusnahannya harus memenuhi standar keamanan tinggi untuk mencegah pencemaran lingkungan dan penularan penyakit. “Jika darah yang dikirim ke Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) rusak atau kedaluwarsa, BDRS wajib mengembalikannya ke PMI untuk dimusnahkan.
“Intinya, darah yang tidak layak digunakan akan dimusnahkan melalui prosedur insinerasi sebagai limbah medis infeksius,” kata Yongki.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....