UB Kediri Stop Kematian Massal Benih Lele
- 03 Okt 2026 19:34 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Program Studi Akuakultur PSDKU Universitas Brawijaya Kampus Kediri berkomitmen untuk stop kematian massal benih Ikan Lele
- Tim juga menguji aspek yang jarang mendapat perhatian dalam riset vaksin, yaitu rantai penyaluran
RRI.CO.ID, Kediri - Program Studi Akuakultur PSDKU Universitas Brawijaya Kampus Kediri berkomitmen untuk stop kematian massal benih Ikan Lele. Upaya ini dilakukan dengan memperluas uji coba purwarupa vaksin berbasis pakan (feed-based vaccine) anti-bakteri Aeromonas langsung di kolam-kolam pembenih mitra di Kabupaten Kediri.
Sepanjang September hingga awal Oktober 2026, teknologinya tidak lagi diuji di lab, tapi diuji kelayakannya oleh pembenih itu sendiri.
Berbeda dari pengujian efikasi di laboratorium yang menilai kinerja biologis vaksin, uji pengguna ini menilai kelayakan purwarupa dari sudut pandang pembenih yang akan memakainya sehari-hari.
Setiap kesulitan yang muncul, mulai dari panduan yang kurang jelas, takaran yang merepotkan, jadwal pemberian yang bertabrakan dengan rutinitas kerja, hingga cara penyimpanan pakan, dicatat sebagai temuan yang harus diperbaiki, bukan sebagai kesalahan pengguna.
Menurut Ketua Tim Riset, Renanda Baghaz Dzulhamdhani Surya Putra, uji pengguna tidak dipusatkan di satu lokasi. Kegiatan menjangkau beberapa unit pembenihan mitra dengan kondisi fasilitas dan skala usaha yang berbeda, dari unit berbangunan permanen hingga unit sederhana bernaungan atap terpal dan bambu.
"Tujuannya agar temuan yang terkumpul mewakili ragam pengguna yang sebenarnya, bukan hanya unit dengan fasilitas terbaik," kata Renanda, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Ia menyebutkan, tim juga menguji aspek yang jarang mendapat perhatian dalam riset vaksin, yaitu rantai penyaluran. Pakan bervaksin diangkut ke lokasi mitra menggunakan wadah berpendingin untuk menjaga mutu antigen selama perjalanan. Kelayakan cara distribusi ini ikut dievaluasi, karena menentukan apakah teknologi dapat menjangkau pembenih yang tersebar di berbagai kecamatan.
"Pada iterasi pertama ini kami tidak menguji ikannya saja, tetapi juga menguji diri kami sendiri, apakah purwarupa yang kami buat benar-benar bisa dipakai pembenih tanpa kami dampingi terus. Setiap keluhan yang muncul di lapangan justru yang paling kami butuhkan, karena di situlah letak perbaikan untuk iterasi berikutnya," ujar Renanda.
Ia menjelaskan, seluruh temuan iterasi pertama akan dirangkum menjadi daftar perbaikan yang menjadi dasar penyusunan purwarupa versi berikutnya. Setelah itu, pengujian dilanjutkan pada iterasi kedua, ketiga, dan keempat dengan satu prinsip utama, yakni jumlah pembenih yang dilibatkan bertambah pada setiap iterasi.
"Perbedaan itulah yang justru dibutuhkan, karena purwarupa vaksin yang layak diadopsi secara luas harus terbukti bekerja pada ragam kondisi tersebut, bukan hanya pada satu lokasi yang menguntungkan," tambah Renanda.
Lebih lanjut, purwarupa vaksin yang diuji ditujukan untuk menangkal infeksi bakteri Aeromonas, penyebab penyakit yang lazim dikenal pembenih sebagai pemicu kematian massal benih lele dalam waktu singkat. Hal terutama saat kualitas air menurun atau benih mengalami stres setelah penanganan dan penyortiran.
Kegiatan ini merupakan bagian dari skema Mitra BESTARI Saintek yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama LPDP, serta didukung Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Perikanan.
Terpisah, seorang warga di Kota Kediri, Hadi mengatakan, sangat mengapresiasi strategis UB Kediri dalam mengatasi meluasnya kematian massal benih lele dalam waktu singkat.
"Harapan kami inovasi tersebut dapat dikenalkan lebih luas kepada masyarakat. Dengan demikian, produktivitas lele di tingkat pembudidaya bisa ditingkatkan," kata Hadi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....