Cegah Lele Kena Penyakit, PSDKU UB Kediri Uji Pakan Bervaksin
- 13 Sep 2026 22:19 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Serangan penyakit bakterial pada benih lele masih menjadi momok utama pembudidaya di Kabupaten Kediri
- PSDKU Universitas Brawijaya Kampus Kediri kini mengembangkan inovasi purwarupa vaksin berbasis pakan
RRI.CO.ID, Kediri — Serangan penyakit bakterial pada benih lele masih menjadi momok utama pembudidaya di Kabupaten Kediri. Untuk menekan angka kematian dan mengurangi ketergantungan pada antibiotik, PSDKU Universitas Brawijaya Kampus Kediri kini mengembangkan inovasi purwarupa vaksin berbasis pakan.
Inovasi ini dikembangkan oleh Program Studi Akuakultur PSDKU UB Kediri melalui skema riset BESTARI Saintek.
Program yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama LPDP ini berjudul 'Pengembangan dan Implementasi Vaksin Feed-Based untuk Produksi Benih Ikan Lele Unggul Tahan Penyakit melalui Kemitraan Multi-Stakeholder di Kabupaten Kediri'.
Apalagi Kediri sendiri, dikenal sebagai salah satu sentra pembenihan lele di Jawa Timur. Namun produktivitas pembenihan kerap terganggu karena benih mudah terserang penyakit, terutama pada fase awal. Dampaknya, kualitas benih menurun dan biaya produksi membengkak.
Ketua tim peneliti, Renanda Baghaz Dzulhamdhani Surya Putra, S.Pi., M.P., M.Sc mengatakan fokus riset tahap ini adalah merakit purwarupa dan menguji fungsi dasarnya. Timnya terdiri dari Dr. Zainal Abidin, Diana Aisyah, dan Rizky Fadilla Agustin Rangkuti.
"Skema BESTARI Saintek memang menyasar wujud nyata teknologi. Jadi capaian utamanya adalah purwarupa yang bisa diuji, bukan hanya luaran di atas kertas," jelas Renanda, Minggu, 13 September 2026.
"Purwarupa yang dikembangkan berupa pakan benih lele yang telah dimuati antigen. Prosesnya melalui formulasi dan pelapisan dengan bahan pengikat pelindung agar antigen tidak rusak saat masuk ke air," katanya.
Metode pemberian melalui pakan dipilih karena paling praktis. Pembudidaya tidak perlu menangani ikan satu per satu seperti metode suntik. Cara ini dinilai minim stres bagi benih, hemat tenaga kerja, dan bisa diulang sesuai jadwal pakan harian.
Pada tahap awal, tim menetapkan spesifikasi dasar. Mulai dari kandidat antigen, dosis muatan antigen per satuan pakan, teknik pelapisan, hingga ukuran butiran yang sesuai dengan bukaan mulut benih lele. Semua parameter disusun agar purwarupa mudah direplikasi.
Untuk memastikan purwarupa bekerja, tim menyiapkan empat rangkaian uji. Yaitu uji integritas dan stabilitas antigen dalam pakan, uji palatabilitas dan daya terima pakan, uji respons imun benih, serta uji tantang dengan bakteri penyebab penyakit.
Hasil dari uji fungsionalitas dasar ini akan menjadi dasar perbaikan secara iteratif. Targetnya, diperoleh rancangan akhir yang siap diverifikasi pada kondisi pembenihan sesungguhnya di lapangan.
Kegiatan ini resmi dimulai di UPT Perikanan Budidaya Air Tawar PBAT Pare, Dinas Perikanan Kabupaten Kediri, pada Senin, 7 September 2026. Hadir tim peneliti, perwakilan dinas, dan pelaku usaha pembenihan lele.
Pengujian tidak berhenti di laboratorium. Melalui pendekatan co-creation living lab, kolam milik anggota Asosiasi Pengusaha Catfish Kediri dijadikan tempat uji nyata. UPT PBAT Pare berperan menyediakan fasilitas dan pendampingan teknis.
"Kami banyak berharap hasil kegiatan ini mampu menurunkan angka kematian benih ikan lele. Dengan begitu produksi bisa naik, baik kuantitas maupun kualitas," kata Sekretaris Asosiasi Pengusaha Catfish Kediri, Mutif.
Kepala UPT PBAT Pare, Novi, juga mendukung penuh. Sebab, pengembangan vaksin feed-based sejalan dengan upaya menghasilkan benih lele unggul yang tahan penyakit.
"Pembudidaya juga kami libatkan sejak awal, mulai dari perumusan spesifikasi sampai evaluasi di kolam," kata Novi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....