Mahasiswa UNP Kediri Ciptakan Inovasi Desa SIGAP untuk Mitigasi Bencana
- 22 Jul 2026 20:44 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri – Mahasiswa Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer (FTIK) Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri mengembangkan Desa SIGAP (Sistem Siaga Bencana) Satu Jaringan Tanpa Batas, sebuah inovasi berbasis teknologi yang dirancang untuk mendukung mitigasi bencana hidrometeorologi, khususnya banjir dan tanah longsor.
Sistem tersebut diperkenalkan dalam ajang Pekan Inovasi Nusantara 2026 di UNP Kediri, Rabu, 22 Juli 2026, di Gedung CMN Kampus 1, sebagai upaya menghadirkan sistem peringatan dini yang tetap berfungsi tanpa jaringan internet.
Mahasiwa FTIK UNP Kediri sekaligus penggagas Desa SIGAP, Ilham Khefi Ramadhanu, menjelaskan bahwa sistem memanfaatkan teknologi Multi Node Mesh LoRa sehingga komunikasi antarperangkat tetap berjalan meski berada di wilayah tanpa akses internet. Menurutnya, teknologi tersebut diharapkan mampu mempercepat penyampaian informasi saat kondisi darurat.
"Desa SIGAP kami rancang sebagai sistem siaga bencana dari hulu hingga hilir yang mampu mempercepat proses peringatan dini dan evakuasi masyarakat tanpa bergantung pada jaringan internet," ujar Ilham.
Selain berfungsi sebagai sistem peringatan dini banjir dan longsor, Desa SIGAP juga dilengkapi teknologi Edge Artificial Intelligence (AI) yang mampu mengidentifikasi suara untuk mendeteksi aktivitas pembalakan liar (illegal logging). Seluruh perangkat pemantauan dirancang menggunakan panel surya sehingga dapat beroperasi secara mandiri di lapangan.
"Kami juga mengintegrasikan Edge AI untuk melakukan klasifikasi suara sehingga aktivitas illegal logging dapat dideteksi lebih awal. Seluruh perangkat menggunakan panel surya agar tetap beroperasi secara mandiri di lokasi yang sulit dijangkau," katanya.
Melalui aplikasi yang dikembangkan, pengguna dapat memantau kondisi cuaca, data sensor, pergerakan tanah, hasil deteksi suara berbasis AI, hingga peta digital persebaran node di kawasan rawan bencana. Aplikasi tersebut juga menyediakan informasi status setiap titik pemantauan, panduan evakuasi, edukasi kebencanaan, daftar nomor darurat, serta fitur SOS yang memudahkan masyarakat menghubungi instansi terkait saat terjadi bencana.
Ilham mengatakan, pengembangan inovasi tersebut diawali dari kebutuhan akan sistem mitigasi yang tetap dapat diandalkan di daerah dengan keterbatasan infrastruktur komunikasi. Karena itu, tim memilih mengembangkan teknologi yang tidak bergantung pada koneksi internet.
"Kami ingin menghadirkan solusi yang benar-benar bisa digunakan masyarakat di daerah rawan bencana. Ketika jaringan komunikasi terputus akibat bencana, sistem ini diharapkan tetap mampu mengirimkan informasi penting kepada pengguna," ucapnya.
Proses pengembangan Desa SIGAP berlangsung selama tiga bulan. Pada bulan pertama, tim melakukan riset untuk mengidentifikasi permasalahan yang akan diselesaikan. Tahap berikutnya difokuskan pada perakitan perangkat keras, sebelum akhirnya menyempurnakan aplikasi pada bulan ketiga.
"Ini merupakan inisiasi pertama kami. Ke depan kami berharap dapat berkolaborasi dengan BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan, maupun instansi lainnya agar teknologi ini dapat diterapkan secara lebih luas dan mampu meminimalkan dampak bencana hidrometeorologi," kata Ilham.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....