Founder Kediri Technopark Bagikan Kunci Sukses Raih Pasar Digital Global
- 12 Jun 2026 20:51 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Menembus pasar kerja digital internasional dari rumah membutuhkan kompetensi teknis yang matang serta kesiapan mental yang kuat dari para kreator muda daerah. Menghilangkan rasa minder dan menjauhkan stigma bahwa pencari kerja lokal memiliki posisi tawar yang rendah menjadi langkah awal yang wajib dilakukan.
“Karakteristik pasar global tidak pernah memandang dari mana asal daerah seorang pekerja, melainkan fokus pada kualitas akhir produk yang dihasilkan,” ucap Founder Kediri Technopark, Sam B. Taufik,.
Sam menekankan pentingnya penguasaan bahasa asing serta ketelitian tingkat tinggi (detailing) dalam menghasilkan sebuah karya digital. Kelemahan mendasar yang sering kali dijumpai pada pekerja muda lokal terletak pada proses eksekusi akhir yang kurang mendetail. Padahal, aspek penyelesaian yang rapi (finishing) justru menjadi faktor utama yang memunculkan kesan mewah dan profesional pada sebuah produk kreatif.
"Pelajari bahasa asing itu penting, kemudian lakukan detailing. Ini yang sering menjadi kelemahan anak-anak muda kita. Eksekusi pekerjaan itu harus sampai detail, karena dari situlah terlihat kemewahan karya dan finishing yang rapi. Hilangkan rasa minder dari dalam diri dan jauhkan stigma bahwa pencari kerja ini rendah. Kita harus selalu merasa bodoh agar bisa terus belajar," ujarnya dalam dialog bersama RRI, Jumat, 12 Juni 2026.
Ia membagikan bukti nyata bahwa melalui konsistensi belajar, anak muda di daerah bahkan mampu menciptakan produk digital tingkat dunia dalam kurun waktu satu tahun. Beberapa contoh inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang telah lahir di antaranya adalah Kedai Master yang menjadi software kasir berbasis AI pertama di dunia. Selain itu, terdapat pula platform inovatif seperti Xalira yang mampu membuat sebuah objek digital, serta platform Mister Kiyai.
Namun demikian, Sam juga mengingatkan adanya dampak buruk tersembunyi dari aktivitas bekerja secara mandiri di rumah, seperti masalah kedisiplinan dan risiko jenuh (burnout). Untuk mengantisipasi kendala tersebut, pekerja digital harus memiliki kesadaran tinggi untuk membangun suasana kerja profesional di lingkungan tempat tinggalnya. Komunikasi yang jelas dengan orang-orang di sekitar rumah menjadi faktor penentu agar waktu kerja tidak terganggu.
"Dampak buruk kerja dari rumah, semuanya harus sadar. Bangun suasana kerja yang kondusif dan beri tahu orang-orang di sekitar bahwa kita sedang bekerja di rumah agar tidak terganggu dan bisa lebih konsisten. Kita harus melatih kemandirian yang ketat terhadap jam kerja dan batas waktu (deadline) pekerjaan yang diberikan oleh klien," lanjutnya.
Ia mengajak generasi muda untuk berani merebut kemerdekaan pribadi dengan memanfaatkan kesetaraan akses di era digital tanpa harus meninggalkan kampung halaman. Meskipun saat ini industri global sudah memasuki era penuh kecerdasan buatan (AI), ia berpesan agar para pekerja digital tetap menjaga keseimbangan hidup. Generasi muda diingatkan untuk tidak melupakan kehidupan sosial di dunia nyata sebagai bagian penting dari kemanusiaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....