​Berbekal AI, Mahasiswa Indonesia-Malaysia Semangat Melestarikan Batik

  • 21 Des 2025 23:22 WIB
  •  Kediri

KBRN, Kediri: Sejak zaman nenek moyang, batik telah menjadi warisan tak ternilai di Indonesia. Bahkan dengan potensi unggulan tersebut, UNESCO telah menetapkan batik Batik Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada tanggal 2 Oktober 2009, di Abu Dhabi. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar penetapan Hari Batik Nasional di Indonesia.

Dengan semangat itu, sejumlah mahasiswa Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri, Jawa Timur menjalin kolaborasi apik dengan Universiti Tekknologi PETRONAS Malaysia dalam memperkuat pengembangan UMKM batik di Indonesia.

Salah satunya, tampak ketika mereka berada di Kampung Batik Dermo Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Sabtu (20/12/2025).

Kolaborasi internasional antara mahasiswa UNP Kediri yang menjadi perwakilan negara Indonesia bersama dengan mahasiswa asal Malaysia yang berada dalam satu rumpun tersebut, dilakukan dengan fokus pada rebranding produk inovasi desain serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

"Tujuannya agar batik Dermo di Kecamatan Mojoroto Kota Kediri, mampu menembus pasar regional ASEAN. Di samping itu, kegiatan ini merupakan bagian dari pertukaran budaya sekaligus penguatan pengabdian masyarakat berbasis kearifan lokal," kata Dekan Fakultas Teknik UNP Kediri, Dr

Sulistiono, M.Si, pada Minggu (21/12/2025).

Dari pengamatan Sulistiono, hingga sekarang batik Dermo khas Kediri memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Akan tetapi, masih memerlukan penguatan dari sisi identitas merek dan daya saing produk.

Oleh sebab itu, melalui program pengabdian masyarakat ini, mahasiswa UNP Kediri dan UTP Malaysia terlihat terjun langsung, guna mendampingi pengrajin batik di Kelurahan Darmo.

Mereka tidak hanya mempelajari proses membatik tradisional, tapi juga diarahkan menciptakan motif batik baru berbasis teknologi digital yang lebih adaptif terhadap selera pasar global.

Dalam kunjungan di Kediri, mahasiswa UTP Malaysia bersama UNP Kediri bukan hanya mempelajari pengembangan desain batik tetapi mahasiswa dari kedua negara ini ikut mempelajari teknik membatik kain hingga pembuatan wayang kulit.

Vice Provost Student Affairs UTP Malaysia, Saravanan Muthiah mengatakan, sangat mengapresiasi keterampilan masyarakat di Kelurahan darmoko bakteri dalam menjaga tradisi batik yang memiliki nilai seni tinggi.

"Selama di sini, kami lihat masyarakat di Kediri sangat cerdas dan juga terampil dalam membatik. Kunjungan ini adalah pengalaman luar biasa bagi kami, mahasiswa asal Malaysia untuk mempelajari teknik pembuatan batik yang bernilai tinggi," kata Saravanan.

Lebih lanjut, dalam kedatangan di Kota Kediri, rombongan mahasiswa UTP Malaysia membawa sebanyak 30 orang dan 4 staf dari kampus UTP Malaysia. Mereka ini kemudian mengikuti rangkaian pengenalan budaya di UNP Kediri dan Kampung Batik Dermo.

Selain itu, para mahasiswa asal Negeri Jiran ini juga mempraktikkan langsung pembuatan batik dan wayang kulit sebagai perwujudan pelestarian budaya.

"Di Kediri kami mengajak 30 mahasiswa untuk mengenal profil Kampung Batik Darmo. Dengan begitu mereka bisa mempelajari bagaimana proses membatik hingga menghasilkan karya yang bernilai tinggi," ujarnya.

Menanggapi hal serupa, seorang mahasiswa UTP Malaysia Ahmad Idzhad Hamzie Bin Fazal Anuar menceritakan, pengalamannya saat membatik langsung adalah hal yang berkesan baginya. Apalagi kedatangannya di Kota Tahu, Kediri ini merupakan kunjungan pertamanya.

Setelah mencoba membatik, Ahmad menyebutkan, sangat senang bisa mencoba langsung bagaimana mengawali proses membuat batik. Mulai dari memegang canting (alat membatik) hingga mempraktikkan membuat wayang kulit.

"Pengalaman membuat batik dan wayang kulit di Kediri ini adalah pengalaman luar biasa bagi kami. Tentu saja, hal ini merupakan cerita yang tidak bisa terlupakan," kata Ahmad.

Dalam agenda ini, mahasiswa UNP Kediri juga berperan aktif sebagai pendamping dan duta budaya. Mereka berupaya memgenalkan budaya Kediri kepada mahasiswa Malaysia.

Dista Fatmawati, mahasiswi Program Studi Teknik Informatika dan Ilmu Komputer UNP Kediri, beranggapan, interaksi lintas budaya antara pendiri dan Malaysia ini akan memperkaya pengalaman belajar setiap mahasiswa. Terlebih, saat bertemu dengan mahasiswa Malaysia tersebut ada perbedaan budaya bahasa dan kebiasaan sehari-hari.

"Ketika berkomunikasi dengan mahasiswa Malaysia ini, kami punya pengalaman seru. Kita tidak hanya beda bahasa, namun dengan adanya tujuan sama, maka perbedaan itu bukan masalah karena punya semangat sama, melestarikan batik sebagai warisan budaya," kata Dista.

Dengan hadirnya kolaborasi dua negara serumpun ini, UNP Kediri memperkuat komitmennya sebagai kampus berwawasan global yang adaptif terhadap teknologi. Selain itu, juga konsisten mengangkat potensi budaya lokal termasuk batik Kelurahan Darmo sehingga memiliki daya saing di tingkat regional ASEAN.

Rekomendasi Berita